Lantai koridor Teknik Sipil selalu terasa lebih dingin kalau sudah lewat jam lima sore, tapi bagi Naya, hari justru baru benar-benar dimulai. Sebagai mahasiswi semester 5, dunianya bukan lagi tentang teori di kelas, melainkan tentang praktikum yang tak ada habisnya dan tumpukan laporan yang tebalnya sudah menyaingi skripsi kakak tingkat.
Naya berjalan cepat menuju Laboratorium Struktur. Penampilannya simpel saja—kemeja polos, jeans, dan tas punggung yang isinya lebih banyak penggaris skala daripada alat makeup.
"Nay! Mau langsung ke lab?" suara teriakan itu memecah konsentrasi Naya.
Itu Ali. Di belakangnya, Azka menyusul sambil menenteng dua cup kopi. Mereka berdua adalah sahabat Naya sejak semester dua.
Meski mereka beda kelas, ikatan "nasib sepenanggungan" di Teknik Sipil membuat mereka hampir selalu terlihat bersama.
"Iya, ada jadwal asistensi buat adik tingkat. Kalian duluan aja ke kos, nanti aku nyusul pas magrib," jawab Naya sambil membenarkan letak kacamata.
"Jangan malem-malem, Nay. Tugas Besar Manajemen Konstruksi kita belum disentuh loh. Grafik kurva-S nya masih berantakan," Azka mengingatkan sambil menyodorkan satu kopi untuk Naya.
Naya tersenyum tipis—senyum yang hanya dia berikan pada orang-orang terdekatnya.
"Iya, tenang aja. Siapkan aja kertas kalkir sama laptop kalian."
Malam harinya, suasana di kosan Ali dan Azka sudah seperti kantor kontraktor dadakan. Kosan ini sudah lama jadi basecamp tetap mereka.
Di sudut ruangan, sebuah speaker kecil memutar lagu-lagu santai untuk meredam suara bising kipas laptop yang bekerja keras.
Naya duduk bersila di karpet, dikelilingi oleh lembaran gambar kerja dan laporan praktikum (Laprak) yang harus segera dikumpul besok pagi. Tangannya cekatan mengoreksi hitungan Ali, sementara Azka sibuk berkutat dengan AutoCAD di depannya.
"Beruntung banget kita punya sahabat asdos kayak Naya," gumam Ali sambil menguap lebar.
"Kalau nggak ada lo, mungkin laporan gue udah gue jadiin bungkus kacang." Naya tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
"Makanya, teliti. Jangan asal masukin angka kalau nggak mau jembatan lo roboh di simulasi."
Di tengah jadwalnya yang super hectic—antara urusan UKM yang menuntut kreativitas, tanggung jawab sebagai asdos yang menyita waktu, hingga tugas-tugas kuliah yang seolah datang dengan sistem deret ukur—Naya merasa cukup. Dia tidak butuh dikenal satu kampus. Baginya, memiliki dua sahabat yang bisa diajak berbagi beban dan tempat bernaung seperti basecamp ini sudah lebih dari cukup untuk bertahan di kerasnya semester 5.
Malam semakin larut, tapi lampu di kamar itu tetap terang. Di antara tumpukan beton dan rumus-rumus rumit, ada tawa kecil yang sesekali pecah, membuktikan bahwa sesulit apa pun Teknik Sipil, mereka tidak menjalaninya sendirian.
Di Teknik Sipil, kalau ada kerumunan mahasiswa yang lagi tertawa kencang, kemungkinan besar di tengahnya ada Arfan. Dia adalah definisi anak teknik yang "hidup" banget—temannya dari ujung gedung mesin sampai ujung gedung arsitek. Ramah, asyik, dan punya karisma yang bikin banyak cewek angkatan sempat salah paham alias baper. Tapi, dari sekian banyak orang yang bisa dia sapa, cuma satu yang jadi sasaran empuk kejahilannya: Naya.
Sejak akhir semester 2, entah kenapa Arfan seperti sudah memantapkan diri jadi "bayangan" Naya. Di mana ada Naya, di situ pasti ada Arfan yang siap menjailinya—mulai dari menyembunyikan kalkulator, sampai sengaja salah memanggil nama Naya di depan dosen.
"Nay, ayo berangkat! Motor gue udah siap, helm lo udah gue gantung di spion," teriak Arfan sore itu di depan gerbang kampus, padahal Naya baru saja mau memesan ojek online.
"Fan, gue bisa sendiri. Lagian lo bukannya ada rapat UKM?" tanya Naya dengan nada datarnya, meski sebenarnya dia sudah mulai terbiasa dengan paksaan ramah Arfan.
"Rapat bisa nunggu, tapi nganterin Asdos kesayangan gue nugas itu prioritas utama," sahut Arfan sambil nyengir, menunjukkan barisan giginya yang rapi. Tanpa permisi, dia mengambil tas laptop Naya yang berat dan membawanya duluan ke parkiran.
Malam itu di kosan Ali dan Azka, suasana agak berbeda. Naya terlihat lebih sering mengecek HP-nya dengan muka sedikit risih.
"Kenapa, Nay? Tumben nggak fokus sama manajemen konstruksi?" tanya Ali sambil menyemil kerupuk.
"Ada akun angkatan yang aneh. Dari kemarin view story gue terus, terus tiba-tiba follow. Tapi gue tau itu bukan akun angkatan beneran, itu mantan si Arfan yang pake akun palsu buat stalking," keluh Naya.
Arfan, yang tadinya lagi sibuk main game di pojokan sambil selonjoran, langsung duduk tegak.
"Siapa? Si mantan itu lagi? Aduh, nggak bosen-bosen dia ya nyari info tentang gue lewat lo."
"Gue nggak nyaman, Fan. Jadi berasa dipantau," lanjut Naya jujur. Naya yang tertutup memang paling benci kalau privasinya diusik, apalagi karena urusan asmara orang lain.
Bukannya menjauh atau menegur si mantan lewat pesan pribadi biar masalah selesai, Arfan malah menunjukkan sifat aslinya yang keras kepala. Dia malah mendekat ke arah Naya, mengambil HP Naya, lalu mengajak selfie bareng di tengah tumpukan buku beton.
"Eh, mau ngapain lo?" tanya Naya kaget.
"Biar makin panas yang di sana," jawab Arfan santai. Detik berikutnya, dia mengunggah foto mereka di story Instagram pribadinya dengan caption yang bikin orang mikir macem-macem
"Lembur Tubes ditemenin si Paling Rajin. Semangat ya, Nay!" lengkap dengan emoji hati kecil.
"Fan! Hapus nggak!" seru Naya sambil berusaha merebut HP-nya.
Ali dan Azka cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Percuma, Nay. Makin dilarang, makin jadi itu si Arfan. Dia mah emang sengaja mau nunjukin kalau dia bakal terus 'ngintilin' lo mau ada yang suka atau nggak," komentar Azka.
Arfan cuma tertawa puas sambil kembali menjahili Naya dengan menarik ikat rambutnya sampai copot. Meskipun Naya sering mengomel karena Arfan berisik dan terlalu ekspresif, di dalam hati dia tahu, Arfan adalah orang pertama yang bakal maju kalau ada yang berani macam-macam dengannya—termasuk mantan yang hobi stalking itu.
Hectic-nya semester 5 itu ibarat mencoba lari maraton sambil membawa beban satu sak semen di punggung. Itulah yang dirasakan Naya, Ali, Azka, dan tentu saja Arfan, saat minggu-minggu kritis pengumpulan Tugas Besar berbarengan dengan acara besar Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS).
Suasana sekretariat Himpunan sore itu sangat kacau. Sebagai salah satu pengurus inti, Arfan sedang sibuk berteriak di telepon mengurus perizinan acara seminar nasional, sementara Naya terjepit di antara dua tanggung jawab: dia harus menghadiri rapat koordinasi Himpunan, tapi di saat yang sama, tumpukan laporan praktikum Geoteknik dari adik tingkat sudah menanti untuk dikoreksi sebagai Asdos.
"Nay, lo bisa bantu cek rundown divisi acara nggak? Anak-anak bingung nentuin waktu buat sesi kunjungan lab," tanya seorang pengurus Himpunan dengan wajah memelas.
Naya baru saja ingin membuka mulut, tapi sebuah tangan sudah menarik kursi di sebelahnya. Arfan. Dia baru saja menutup teleponnya dan langsung menatap orang itu.
"Naya lagi koreksi laporan, kasih ke gue aja. Gue yang handle divisi acara," potong Arfan tegas.
Meskipun Arfan itu jail, kalau sudah urusan melindungi waktu Naya di tengah kesibukan himpunan, dia nomor satu. Dia tahu Naya paling tidak bisa menolak kalau ada yang minta tolong, dan Arfan tidak mau Naya makin kecapekan.
Pukul sepuluh malam, mereka berempat akhirnya berkumpul di "basecamp" alias kosan Ali dan Azka. Ruang tamu itu sudah tidak berbentuk lagi. Kertas kalkir berserakan, penggaris segitiga ada di mana-mana, dan aroma kopi hitam yang pekat memenuhi ruangan.
Ali dan Azka sedang dalam mode "survival". Ali sibuk menghitung volume galian, sementara Azka sedang bertarung dengan aplikasi SAP2000 yang not responding.
"Ini kalau SAP gue crash sekali lagi, gue pindah jurusan ke tata boga aja deh," gerutu Azka frustrasi.
Naya sendiri duduk di pojok, kacamata bertengger di hidungnya, pulpen merah di tangan. Dia sedang mengoreksi laporan sambil sesekali melirik laptopnya sendiri.
"Azka, cek lagi kombinasi pembebanannya. Input lo ada yang keliru di dead load-nya, makanya error," ucap Naya tenang tanpa menoleh, insting Asdos-nya tetap tajam meski mata sudah merah.
Tiba-tiba, Arfan datang dari dapur membawa empat bungkus mi instan. Dia meletakkan satu di depan Naya, lalu sengaja duduk sangat dekat, hampir menempel.
"Makan dulu, Bu Asdos. Nanti kalau lo sakit, siapa yang mau ngajarin gue analisis struktur?" goda Arfan sambil mencolek dagu Naya.
"Fan, jangan mulai deh. Gue lagi fokus," jawab Naya, tapi dia tidak bisa menahan senyum tipisnya.
Di sela makan, Naya memperlihatkan layar HP-nya ke Arfan.
"Tuh kan, Fan. Si 'akun angkatan' gadungan itu bikin story lagi. Dia nge-repost foto lo yang tadi siang, tapi di-crop bagian gue nya. Risih banget, sumpah."
Arfan langsung meletakkan garpunya. Matanya berubah dingin sebentar sebelum kembali jenaka. Tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil HP-nya sendiri. Bukannya membalas lewat DM atau melabrak, Arfan malah membuka fitur Live Instagram.
Dia mengarahkan kamera ke arah Naya yang lagi makan mi dengan rambut dicepol asal-asalan.
"Halo guys! Lagi nugas bareng calon insinyur masa depan nih. Liat nih, Asdos kita lagi makan mi instan, tetep cantik kan?" seru Arfan ke arah kamera.
"Arfan! Matiin nggak!" Naya panik dan berusaha menutupi wajahnya dengan buku laporan.
Ali dan Azka malah ikut-ikutan masuk ke frame.
"Iya nih, Arfan kalau nggak nempel sama Naya sehari aja kayaknya sakau semen dia!" canda Ali yang disambut tawa pecah di kolom komentar Live tersebut.
Arfan sengaja melakukan itu. Dia ingin menegaskan secara publik—dan secara halus kepada si mantan yang sedang menonton—bahwa Naya adalah prioritasnya, dan dia tidak peduli siapa pun yang mencoba mengusik kenyamanan Naya.
"Udah, Nay. Biarin aja dia liat. Biar dia tau kalau lo itu 'orang dalem' gue. Nggak ada yang bisa ganggu lo selama ada Arfan di sini," ucap Arfan santai sambil kembali menyantap mi-nya, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan masalah sepele.
Malam itu, di tengah hiruk-pikuk tugas besar dan drama himpunan, Naya merasa sedikit lega. Meskipun dunianya sedang sangat hectic, setidaknya dia punya tiga orang "gila" ini yang selalu punya cara unik untuk membuatnya tetap bertahan.
Pagi itu, area kantin teknik benar-benar penuh sesak. Naya duduk di pojok meja yang biasanya jadi tempat mangkal mereka, dikelilingi oleh tumpukan kertas A3 hasil asistensi adik tingkat yang baru saja ia periksa. Kepalanya terasa agak
berat karena semalam hanya tidur tiga jam, tapi dia harus tetap fokus.
"Nih, minum dulu. Muka lo udah kayak beton belum kering, kaku banget," celetuk Arfan yang tiba-tiba muncul dan langsung meletakkan segelas es kopi di depan Naya.
Seperti biasa, Arfan tidak datang sendiri. Ali dan Azka mengekor di belakangnya, masing-masing membawa map besar berisi tugas gambar teknik. Mereka bertiga langsung mengambil posisi duduk mengelilingi Naya. Arfan, tanpa merasa berdosa, menggeser tumpukan laporan Naya hanya supaya dia bisa duduk lebih dekat.
"Fan, jangan berantakan, itu udah gue urutkan sesuai abjad," tegur Naya pelan, tangannya bergerak merapikan kembali kertas-kertas itu.
"Iya, iya, maaf Bu Asdos. Galak amat sih, lagi pms ya?" goda Arfan sambil mencolek ujung pulpen merah Naya. Naya hanya mendelik, tapi tidak benar-benar marah. Dia sudah hafal luar kepala kalau Arfan memang tidak bisa diam sedetik pun.
"Eh, kalian dengar nggak?" Ali membuka suara sambil membuka laptopnya.
"Katanya Pak Bambang lagi sensitif banget minggu ini. Ada masalah sama laporan dana kegiatan himpunan bulan lalu. Kabarnya ada selisih angka yang lumayan gede."
Naya langsung menghentikan aktivitas mencoretnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Sebagai orang yang memegang kendali administrasi di HMS, dia tahu betul kalau semua berkas sudah ia periksa berkali-kali sebelum diserahkan ke bendahara.
"Selisih gimana? Gue yang verifikasi terakhir kali sebelum masuk ke meja dosen," sahut Naya mulai cemas.
Azka mengangguk pelan.
"Iya, makanya itu. Tapi tadi gue denger di sekret, katanya Pak Bambang dapet laporan versi lain. Kayaknya ada yang nggak beres di bagian penginputan akhir."
Baru saja Naya ingin menjawab, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari grup pengurus inti Himpunan muncul. Namanya dipanggil oleh sekretaris jurusan untuk segera menghadap Pak Bambang di ruangannya. Atmosfer di meja itu mendadak berubah tegang.
Arfan yang biasanya paling berisik, tiba-tiba terdiam. Dia melihat tangan Naya yang sedikit gemetar saat memasukkan pulpen ke dalam tas. Tanpa banyak bicara, Arfan berdiri dan langsung menyambar tas laptop Naya.
"Gue temenin," kata Arfan singkat. Nada suaranya berubah, tidak ada lagi nada jail yang tadi dia pakai.
"Enggak usah, Fan. Gue bisa sendiri. Lo kan ada jadwal praktikum hidrolika bentar lagi," tolak Naya halus.
"Praktikum bisa nyusul, Ali sama Azka bisa titip absen dulu atau bilangin asdosnya gue telat. Masalah ini lebih penting. Gue tahu lo nggak mungkin salah hitung, Nay. Pasti ada yang main belakang," tegas Arfan. Dia menatap Ali dan Azka seolah memberi instruksi lewat mata.
Ali dan Azka pun mengangguk kompak. "Iya Nay, lo pergi sama Arfan aja. Kita bakal pantau dari luar atau cari info di sekret kalau ada apa-apa."
Sepanjang jalan menuju ruang dosen, Naya hanya diam. Pikirannya kalut.
Arfan yang berjalan di sampingnya seolah bisa membaca pikiran Naya. Dia sengaja berjalan mepet, melindungi Naya dari
kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor.
"Nay, dengerin gue," Arfan berhenti sebentar sebelum mereka sampai di depan pintu ruang dosen. Dia memegang kedua bahu Naya, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Apapun yang Pak Bambang bilang nanti, jangan langsung nyalahin diri sendiri. Gue tau siapa lo, Ali sama Azka juga tau. Kalau ada yang mau jatuhin lo, dia harus hadepin gue dulu."
Naya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Dia baru sadar, di balik semua sikap jail dan tingkah "ngintilin" Arfan selama ini, cowok itu punya cara tersendiri untuk menjadi tameng paling kokoh baginya.
Dengan tangan yang masih sedikit dingin, Naya mengetuk pintu kayu jati ruang Pak Bambang. Di belakangnya, Arfan tetap berdiri tegak, tidak berniat beranjak satu inci pun sampai urusan ini selesai.
Naya mengetuk pintu kayu itu dengan pelan. Suara "Masuk!" yang berat dari dalam ruangan membuat nyalinya sedikit menciut. Pak Bambang duduk di balik meja besarnya, kacamata bacanya melorot sampai ke ujung hidung, sementara di hadapannya bertumpuk map-map proyek dan laporan kegiatan HMS.
Arfan tetap mengekor masuk, meskipun Pak Bambang sempat memberikan tatapan bertanya. Arfan hanya memberikan gestur sopan namun tetap berdiri kokoh di samping kursi Naya, seolah ingin memastikan Naya tidak merasa sendirian menghadapi "sidang" dadakan ini.
"Naya, kamu tahu kenapa saya panggil?" tanya Pak Bambang langsung pada intinya. Beliau menggeser sebuah laporan fisik yang sampulnya sudah sangat familiar bagi Naya. Itu adalah laporan keuangan kegiatan pengabdian masyarakat bulan lalu.
"Terkait selisih dana yang ramai dibicarakan di Himpunan, Pak?" jawab Naya berusaha setenang mungkin, meski jemarinya saling bertaut di bawah meja.
"Bukan cuma selisih, Naya. Tapi ada ketidaksesuaian antara nota fisik yang kamu lampirkan dengan data digital yang masuk ke email saya semalam. Di data digital, ada pencairan dana konsumsi yang nilainya dua kali lipat dari nota aslinya. Dan akun yang mengirimkan revisi data itu menggunakan akun akses kamu," jelas Pak Bambang dengan nada kecewa yang kental.
Naya tertegun.
"Revisi semalam? Pak, saya bahkan tidak membuka laptop semalam karena saya sedang asistensi di Lab Beton sampai jam delapan, lalu lanjut mengerjakan Tugas Besar di kosan teman.
“Saya tidak mengirim email apa pun."
"Tapi bukti digitalnya atas nama kamu, Naya. Sebagai Asdos dan pengurus inti, kamu tahu konsekuensi kalau ada dugaan manipulasi dana seperti ini, kan?"
Mata Naya mulai terasa panas. Dia tahu betapa kerasnya dia menjaga integritasnya selama ini. Dia rela tidak tidur demi memastikan angka di laporan itu pas hingga ke rupiah terakhir. Dituduh seperti ini di depan dosen yang paling dia hormati rasanya benar-benar menyakitkan.
"Permisi, Pak," Arfan akhirnya membuka suara setelah sejak tadi hanya menyimak dengan wajah serius.
"Boleh saya lihat detail email pengirimannya? Jam berapa tepatnya email itu dikirim?"
Pak Bambang memutar layar monitornya.
"Pukul 21.15 WIB."
Arfan langsung merogoh ponselnya.
"Pak, semalam jam sembilan lewat lima belas, Naya sedang ada di kosan Ali dan Azka. Dia sedang membantu saya dan teman-teman mengerjakan SAP2000. Bahkan saya sempat buat Live Instagram yang ada Naya-nya sekitar jam segitu untuk pamer kalau kita lagi lembur tugas."
Naya menoleh ke arah Arfan dengan tatapan tidak percaya. Dia baru sadar kalau tingkah jail Arfan semalam—yang sempat membuatnya kesal karena merasa terganggu saat nugas—ternyata sekarang menjadi bukti alibi yang sangat kuat.
Arfan menunjukkan rekaman Live yang masih tersimpan di arsipnya. Di sana terlihat jelas jam tayangnya dan sosok Naya yang sedang serius di depan laptop, jauh dari urusan kirim-mengirim email Himpunan.
"Selain itu, Pak," lanjut Arfan, suaranya merendah tapi penuh penekanan. "Kemarin siang, ada satu mahasiswa yang meminjam laptop Naya di sekretariat dengan alasan darurat. Kebetulan saya lihat, dan saya juga tahu kalau dia punya akses ke beberapa password. Saya curiga ada yang sengaja masuk ke akun Naya lewat laptop itu."
Pak Bambang mulai mengerutkan kening, beralih menatap bukti yang ditunjukkan Arfan.
suaranya melunak.
"Baik. Kalau begitu, laporan ini saya tahan dulu. Naya, kamu jangan dulu berpikir yang macam-macam. Arfan, bawa Naya keluar dulu. Saya akan panggil bagian bendahara dan mahasiswi yang kamu maksud untuk klarifikasi internal."
Begitu keluar dari ruangan, Naya merasa lututnya benar-benar lemas. Dia bersandar pada dinding koridor yang dingin. Arfan langsung berdiri di depannya, menghalangi pandangan orang-orang yang mungkin penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.
"Tuh kan, apa gue bilang. Lo aman, Nay," ucap Arfan lirih.
Naya mendongak, menatap Arfan yang kini tersenyum tipis—bukan senyum jail yang biasanya, tapi senyum yang sangat menenangkan.
"Fan, kok lo bisa kepikiran soal Live itu jadi bukti?"
"Gue kan emang pinter, cuma sering gue simpen aja buat keadaan darurat," canda Arfan kembali ke sifat aslinya. Dia mengacak rambut Naya pelan.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi. Sekarang kita ke basecamp. Ali sama Azka pasti udah mau mati penasaran nungguin kabar lo."
Arfan kembali mengambil tas Naya dan menyampirkannya di bahu.
"Ayo, gue antar. Jangan coba-coba pesan ojek, atau gue laporin ke Pak Bambang lagi biar lo disidang karena nolak tumpangan orang ganteng."
Naya akhirnya tertawa, tawa pertama yang benar-benar lepas setelah ketegangan di dalam ruangan tadi. Ternyata, di balik segala ke-hectic-an semester 5 ini, dia punya sistem pendukung yang jauh lebih kuat dari beton mutu tinggi sekalipun.
Suasana di kosan Ali dan Azka malam itu akhirnya mulai tenang setelah drama besar seharian. Naya duduk selonjoran di karpet, mencoba menormalkan napasnya yang tadi pagi sempat sesak gara-gara dituduh Pak Bambang.
Di depannya, Ali dan Azka baru saja meletakkan beberapa bungkus mi instan sebagai bentuk "syukuran" kecil-kecilan.
"Gila, gue beneran nggak habis pikir sama Bang Reno," gumam Ali sambil menuang kuah mi. "Bisa-bisanya dia seceroboh itu pas minjem laptop lo di sekretariat."
"Namanya juga senior lagi dikejar deadline laporan Himpunan, Li," sahut Naya pelan.
"Dia panik karena draf anggaran ditagih Pak Bambang secepatnya. Pas dia buka portal pake laptop gue, dia nggak sadar akun gue masih login. Dia malah kirim draf kasar yang angkanya belum di-markup, mana kirimnya lewat akun gue lagi."
Azka menggelengkan kepala. "Tapi untungnya Pak Bambang mau dengerin penjelasan kalian ya. Gue sama Ali tadi di kelas bener-bener nggak fokus, kepikiran lo terus."
"Semua itu berkat bukti 'kecelakaan' semalam," Naya melirik Arfan yang lagi asyik senderan di tumpukan bantal.
Arfan cuma nyengir bangga. Memang dia yang paling vokal di ruang dosen tadi. Pas Pak Bambang bilang email dikirim jam sembilan malam, Arfan langsung buka HP-nya dan menunjukkan arsip Live Instagram mereka semalam. Di video itu jelas terlihat Naya lagi fokus ngitung volume beton di kosan Ali-Azka, sementara Arfan sibuk menjahilinya di belakang. Jamnya pas, alibinya kuat. Pak Bambang nggak bisa bantah kalau Naya nggak mungkin ada di dua tempat sekaligus. Bang Reno pun akhirnya ngaku kalau dia yang salah kirim draf pas minjem laptop Naya.
"Udah, Nay. Yang penting asdos aman, beasiswa aman," kata Arfan sambil kembali fokus ke layar HP-nya yang terus berbunyi. Senyum-senyum di wajahnya terlihat mencurigakan.
Naya memperhatikan Arfan. Dia tahu betul, Arfan ini lagi gencar-gencarnya melakukan pendekatan ke Clarissa, anak Fakultas Hukum yang cantiknya jadi pembicaraan satu kampus.
"Fan," panggil Naya dengan nada memperingatkan.
"Apa Bu Asdos? Mau minta jemput besok?" tanya Arfan tanpa menoleh.
"Enggak. Gue serius, lo kurangi deh jemput-jemput gue atau nempel-nempel gue terus kalau di kampus," kata Naya.
Arfan menurunkan HP-nya, alisnya terangkat satu. "Kenapa lagi? Masalah Bang Reno kan udah kelar."
"Bukan soal itu. Gue denger lo lagi deket sama Clarissa anak Hukum itu kan? Gue nggak mau dia jadi mikir macem-macem pas liat lo ngintilin gue mulu," Naya menghela napas. "Lo kan tau sendiri, tampang lo tuh... gimana ya, Playboy banget, Fan. Auranya tuh aura penjahat wanita yang suka tebar pesona. Gue nggak mau dia mundur teratur gara-gara ngira lo cowok yang nggak bisa jauh dari cewek lain."
Ali yang lagi nyeruput kuah mi langsung keselek tawa. "Asli! Muka Arfan mah kalau ditaruh di depan gedung hukum pasti langsung kena pasal 'Perbuatan Tidak Menyenangkan Hati Wanita'."
Arfan tertawa kencang, suaranya memenuhi kamar kos. Dia malah sengaja memajukan duduknya sampai dekat dengan Naya.
"Nay, dengerin ya. Clarissa itu anak Hukum, dia pinter analisis fakta. Dia pasti tau mana yang namanya 'prioritas' mana yang 'sahabat'."
"Halah, justru karena dia anak Hukum dia bakal curiga kalau liat bukti-bukti lo nempel ke gue mulu!" balas Naya sambil mendorong dahi Arfan pake jari telunjuknya. "Gue serius, Arfan! Jangan sampe gara-gara mau nemenin gue nugas, lo jadi jomblo abadi karena dicap f-boy."
"Nggak apa-apa jomblo abadi, yang penting kalau lo butuh saksi alibi lewat Live IG lagi, gue selalu standby paling depan," Arfan nyengir lebar, lalu balik lagi ke HP-nya, membalas chat Clarissa dengan gaya santainya seolah nggak punya beban.
Naya hanya bisa geleng-geleng kepala. Meski dia tahu Arfan memang punya tampang dan gaya bicara yang "berbahaya".
Hubungan Arfan dan Clarissa, si mahasiswi Hukum itu, akhirnya resmi juga. Sesuai janjinya pada Naya, Arfan mulai membatasi frekuensi antar-jemputnya demi menjaga perasaan pacar barunya.
Tapi kalau urusan Tugas Besar dan belajar bareng, Arfan tetap memprioritaskan jadwal kumpul di basecamp—terutama karena dia tahu betul betapa "berbahaya"-nya Naya kalau sudah menyangkut urusan akademik.
Malam itu, kosan Ali dan Azka berubah jadi balai warga. Beberapa anak angkatan sengaja datang untuk minta bantuan Naya soal mata kuliah Hidrologi yang rumitnya minta ampun. Naya, Ali, dan Azka yang memang sudah menyelesaikan tugas tersebut, dengan telaten membantu teman-teman mereka.
Pukul menunjukkan jam satu malam. Teman-teman yang lain sudah pulang satu per satu, menyisakan dua orang yang masih berjuang dan tentu saja duo tuan rumah, Ali dan Azka. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Arfan masuk dengan napas sedikit terengah.
"Nay... maaf banget, tadi Clarissa minta ditemenin dulu sebentar karena ada urusan penting," ucap Arfan sambil langsung mengambil posisi duduk di sebelah Naya. Dia memasang wajah paling memelas, mencoba membujuk Naya yang wajahnya sudah sedatar beton pracetak.
"Nay, jangan marah ya? Yuk, ajarin gue bagian infiltrasi ini, gue beneran nggak paham," bujuk Arfan lagi sambil menoel-noel lengan baju Naya.
Naya melirik jam dinding, lalu menutup buku referensinya dengan suara "braak" yang cukup keras. "Nggak. Udah malem, gue capek, mau tidur."
"Duh, mampus lo Fan. Singa asdosnya sudah bangun," celetuk Ali dari sudut ruangan sambil merapikan kertasnya.
"Sama gue aja sini, Fan. Atau sama Azka. Kita juga bisa kok," tawar Ali kasihan melihat muka Arfan yang sudah kayak dompet di akhir bulan.
"Nggak mau! Kalau sama kalian mah nggak bakal serius, ujung-ujungnya malah main game atau ngomongin bola. Naya tuh kalau ngajar paling masuk di otak gue, walau galak," tolak Arfan keras kepala. Dia memang keras hati, hanya mau diajar oleh Naya karena Naya tahu celah mana yang Arfan tidak pahami.
Naya berdiri, membereskan tasnya tanpa mempedulikan rengekan Arfan.
"Gue udah bilang kan, Fan? Kalau mau nugas bareng gue, tepat waktu. Gue nggak peduli lo habis kencan atau apa. Jam satu itu waktunya otak gue istirahat, bukan buat dengerin lo yang nggak fokus."
Arfan terus mengekor di belakang Naya saat Naya berjalan ke arah dapur untuk minum.
"Sekali ini aja, Nay. Plis? Besok kan dikumpul. Lo kan asdos paling baik se-angkatan..."
Naya berbalik, menatap Arfan tajam.
"Justru karena gue asdos, gue harus tegas. Lo pilih cewek lo atau tugas lo, itu urusan lo. Tapi waktu gue, itu urusan gue. Ali, Azka, gue tidur di kamar depan ya, udah nggak sanggup melek."
Naya benar-benar masuk ke kamar dan mengunci pintu, meninggalkan Arfan yang mematung di ruang tengah sambil memegang draf tugasnya yang masih kosong.
"Tuh kan, apa gue bilang. Naya kalau soal tugas nggak bisa dinego, Fan," Azka menepuk bahu Arfan. "Udah, mending lo coba kerjain sendiri dulu, nanti kalau mentok baru kita bantu—itu pun kalau lo nggak banyak bercanda."
Arfan menghela napas panjang, menyesali keterlambatannya. Dia pun pada akhirnya begadang di temani azka dan ali. Sesekali ia bertanya pada dua temannya itu. Dan tepat jam 5 subuh, tugasnya selesai. Naya tadi juga sempat bangun dan membantunya. Betapa senangnya Arfan, Naya cuman bisa menasehati dan memperingati arfan. Tak ada telat untuk kedua kalinya.
Deadline tugas selesai juga, akhirnya weekend. Dan weekend kali ini Panjang, karena bertemu tanggal merah pada hari jumat. Jadi, arfan mengajak teman-temanya ke Villa pucak.
Malam di villa Puncak itu terasa sejuk, tapi suasana di meja makan kayu panjang itu agak kaku. Naya duduk di antara Ali dan Azka, sementara Arfan duduk di seberang mereka bersama Clarissa. Ini adalah kali pertama mereka benar-benar duduk dalam satu meja yang sama untuk waktu lama. Naya, dengan sifatnya yang penyaring orang, masih memasang dinding pertahanan; bicaranya hanya seperlunya dan lebih banyak tersenyum tipis menghargai Clarissa. Sebaliknya, Clarissa pun tampak masih menjaga image, berusaha menyesuaikan diri dengan obrolan anak Teknik Sipil yang terkadang kasar dan penuh istilah proyek.
Di tengah suara denting sendok dan aroma suki yang mengepul, ponsel Naya yang tergeletak di meja bergetar hebat. Nama "Raka (Junior Sipil)" muncul di layar. Naya sempat ragu, tapi getaran itu tidak berhenti. Akhirnya, dengan rasa tidak enak, dia mengangkatnya.
"Halo, Rak? Iya, datanya sudah saya kirim di email. Cek folder spam kalau nggak ada. Iya, sama-sama. Jangan telepon jam segini ya, saya lagi acara. Oke."
Naya langsung mematikan sambungan telepon secepat kilat, tapi terlambat. Tiga pasang mata di depannya sudah menatap dengan kilat jenaka yang sangat familiar. Naya menghela napas, dia tahu dia baru saja melakukan kesalahan fatal dengan mengangkat telepon itu di depan "trio maut" ini.
"Cieee... 'Jangan telepon jam segini ya', lembut banget suaranya Bu Asdos," celetuk Azka sambil menyenggol bahu Naya dengan sikunya.
Ali langsung menyambar, "Raka ya? Si Raka anak futsal itu? Yang kalau di lapangan bukannya fokus ngegol-in malah nanyain jadwal asistensi lo ke gue?"
Naya memutar bola matanya jengah.
"Dia nanya Tubes, Ali. Jangan mulai deh."
"Tubes apa Tubes, Nay?" Arfan ikut menimpung sambil menyandarkan punggungnya, melirik Naya dengan senyum jahil yang paling menyebalkan.
"Si Raka itu sering banget nungguin lo di depan Lab Struktur. Gue kira dia mau minta nilai, ternyata cuma mau liatin lo markir motor."
Clarissa hanya tersenyum canggung di sebelah Arfan, tidak berani ikut campur tapi matanya terlihat mengamati dinamika mereka. Ada rasa asing melihat betapa dalamnya Arfan mengenal keseharian Naya.
"Serius, Nay," Azka kembali mengompori.
"Raka sering banget nanyain gue di UKM. 'Bang, Kak Naya kalau nugas sukanya minum apa?', 'Bang, Kak Naya kalau pulang lewat jalan mana?'. Dia tuh beneran naksir lo, bukan cuma mau asistensi."
"Gue nggak peduli," jawab Naya singkat sambil menyuap kuahnya, berusaha terlihat tenang meski telinganya mulai panas. "Dia junior, gue asdosnya. Itu batasan gue."
"Halah, batasan bisa jebol kalau dikasih perhatian terus, Nay," goda Arfan lagi. "Tapi jujur ya, Raka itu oke sih. Aktif di Himpunan, futsalnya jago, nggak malu buat nanya. Tipenya lo banget yang suka cowok effort."
Naya meletakkan sendoknya, menatap Arfan, Ali, dan Azka bergantian. "Bisa nggak kita makan dengan tenang tanpa bahas junior yang nggak tahu apa-apa itu? Clarissa jadi nggak enak dengernya."
Mendengar nama Clarissa disebut, Arfan langsung berdehem dan kembali menyantap makannya, sementara Ali dan Azka tertawa pelan sambil berbisik-bisik soal Raka. Naya kembali terfokus pada piringnya, namun ponselnya kembali bergetar—kali ini bukan telepon, tapi pesan singkat dari Raka yang berisi ucapan terima kasih panjang lebar.
Naya tidak membalasnya. Dia tahu, di Teknik Sipil yang keras, sedikit saja dia memberi celah, teman-temannya akan menggorengnya sampai matang. Apalagi dengan adanya Clarissa di sana, Naya merasa harus tetap menjaga dinding pembatasnya agar tidak ada drama yang tidak perlu di liburan kali ini.
Malam di villa itu semakin larut. Clarissa yang merasa belum benar-benar "masuk" ke dalam obrolan internal anak teknik akhirnya pamit tidur lebih dulu. Di ruang tengah, tersisa empat sahabat itu. Ali dan Azka sudah asyik di depan layar HP, mabar Mobile Legends dengan suara berisik khas mereka, sementara Naya mulai merapikan sisa makan malam.
Arfan, bukannya ikut mabar, malah bangkit membantu Naya. Saat Naya hendak membawa tumpukan piring ke dapur, Arfan dengan jahil menyenggol pinggang Naya sampai Naya hampir kehilangan keseimbangan.
"Arfan! Pecah nih piringnya!" omel Naya dengan suara tertahan.
"Abisnya lo serius amat, Nay. Liburan tuh mukanya santai dikit," balas Arfan sambil tertawa dan justru merebut nampan di tangan Naya, lalu berlari kecil ke dapur. Naya yang kesal mengejarnya, berniat membalas cubitan.
Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Clarissa melihat pemandangan itu. Dia melihat tawa Arfan yang begitu lepas—jenis tawa yang jarang dia lihat saat Arfan bersamanya. Ada rasa getir dan cemburu yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Dia tahu mereka bersahabat, tapi melihat kedekatan yang begitu "cair" itu membuatnya merasa seperti orang asing di hidup pacarnya sendiri.
Satu, dua bulan berlalu. Semester 5 semakin gila, dan intensitas pertemuan Naya dan Arfan justru semakin tinggi karena Tugas Besar yang mulai memasuki tahap final. Clarissa berusaha bersabar, tapi setiap kali melihat Arfan pulang malam dari kosan Ali-Azka, atau melihat Arfan membalas pesan Naya dengan cepat, hatinya panas.
Hingga suatu malam, Clarissa memberanikan diri menelepon Naya. Setelah basa-basi singkat yang terasa kaku, Clarissa akhirnya jujur.
"Nay, gue mau jujur. Gue cemburu. Gue tau kalian sahabat, tapi bisa nggak lo agak jaga jarak sama Arfan? Gue merasa nggak punya ruang sebagai pacarnya," ucap Clarissa di seberang telepon.
Naya terdiam sejenak, menarik napas dalam. Sifat tegasnya keluar.
"Gini ya, Clarissa. Gue paham perasaan lo. Tapi maaf, jawaban gue nggak bisa. Jauh sebelum lo hadir, Arfan sudah ada di hidup gue, Ali, dan Azka. intensitas pertemuan kita di kampus, lab, dan nugas itu hampir tiap hari. Gue nggak bisa menjauh cuma karena lo merasa terancam."
Jawaban itu dingin dan jelas. Naya bukan tipe orang yang mau mengorbankan persahabatan demi perasaan orang baru yang menurutnya belum paham dinamika hidup mereka.
Keesokan harinya di kampus, Naya membawa kekesalannya. Dia marah bukan karena Clarissa, tapi karena merasa Arfan tidak bisa membereskan urusan pribadinya sampai mengusik ketenangan Naya. Sepanjang hari, Naya menjauh. Dia tidak mau duduk bareng di kantin dan mengabaikan panggilan Arfan di koridor.
Arfan kebingungan setengah mati. Malamnya, saat mereka hanya berdua di sekretariat Himpunan untuk mengecek sisa inventaris, Arfan akhirnya memojokkan Naya.
"Nay, lo kenapa sih? Seharian gue kayak dianggap setan. Ada salah apa gue?" tanya Arfan frustrasi.
Naya membanting tumpukan berkas ke meja. "Bilang sama pacar lo, jangan telepon gue malam-malam buat nyuruh gue jaga jarak. Urus cewek lo, Fan. Jangan bawa-bawa gue ke drama kalian. Gue sibuk, tugas gue banyak, gue nggak punya waktu buat urusan cemburu nggak jelas."
Arfan tertegun. Dia tidak menyangka Clarissa sampai senekat itu.
Malam itu juga, Arfan menemui Clarissa. Dia tidak membentak, dia bicara baik-baik namun tegas.
"Clar, aku sayang kamu. Tapi Naya, Ali, dan Azka itu keluarga aku. Kalau kamu minta aku milih atau minta mereka menjauh, itu sama saja kamu minta aku jadi orang lain. Tolong, ngertiin posisi aku di sini."
Sayangnya, pemahaman yang Arfan minta tidak pernah benar-benar bisa diberikan oleh Clarissa. Rasa curiga dan cemburu itu sudah terlanjur mengakar. Hubungan mereka pun mulai terasa hambar dan penuh perdebatan. Mereka hanya bertahan satu bulan lagi, sebelum akhirnya resmi berakhir tepat saat libur semester tiba.
Arfan kembali jomblo, kembali menjadi "f-boy" kampus yang sibuk menjahili Naya di basecamp, sementara Naya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu kembali ke setelan pabrik.
Semester 5 yang penuh keringat dan air mata akhirnya berlalu, tapi Teknik Sipil tidak membiarkan mereka bernapas lega. Memasuki semester baru, mereka dihadapkan pada satu kewajiban besar: KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Proses pendaftaran kelompok jadi drama tersendiri. Arfan, dengan segala koneksi dan mulut manisnya, mencoba melobi Kaprodi agar bisa satu kelompok dengan Naya.
"Pak, saya ini satu paket sama Naya. Kalau Naya sekretarisnya, saya kordesnya, desa itu pasti maju jaya," rayunya di ruang jurusan. Tapi jawaban Pak Kaprodi singkat dan padat:
"Tidak ada nepotisme persahabatan. Kalian harus membaur dengan fakultas lain."
Hasilnya? Mereka berempat terpencar. Ali dan Azka—yang entah karena keberuntungan tingkat tinggi atau memang jodoh—berhasil masuk di satu kelompok yang sama di Desa A. Sementara itu, Arfan terlempar ke Desa C. Naya sendiri ditempatkan di Desa B.
Meski terpisah, nasib masih sedikit berpihak. Desa B (tempat Naya) dan Desa C (tempat Arfan) ternyata bertetangga, hanya terpisah jembatan gantung tua dan hamparan sawah.
Hari pertama penerjunan di Desa B, Naya duduk di balai desa dengan wajah sedikit kaku, tipikal Naya yang sedang "menyaring" orang-orang baru di kelompoknya yang berasal dari Fakultas Hukum, Kedokteran, dan Ekonomi.
"Naya, kan? Sipil angkatannya Arfan?"
Seorang cowok dengan jaket almamater yang disampirkan di bahu menghampirinya. Naya menoleh dan langsung mengenali wajahnya. Itu Radi. Dia salah satu anggota circle Arfan yang lain, anak Teknik Mesin yang sering ikut kumpul kalau mereka lagi ada acara fakultas teknik.
"Eh, iya. Radi ya?" Naya menjawab dengan keramahan standar.
"Iya. Wah, gue tenang deh kalau ada lo di sini. Arfan udah titip pesan berkali-kali ke gue di grup, katanya jagain lo," Radi tertawa renyah. Berbeda dengan Arfan yang jahilnya kebangetan, Radi terasa lebih tenang tapi tetap punya kepercayaan diri khas anak teknik.
Tak butuh waktu lama bagi kelompok mereka untuk menyusun struktur. Dengan pengalaman Naya sebagai Asdos dan sekretaris Himpunan, dia langsung ditunjuk secara aklamasi menjadi Sekretaris Kelompok. Sementara Radi, dengan jiwa kepemimpinannya yang santai tapi tegas, dipilih menjadi Kordes (Koordinator Desa).
Kehidupan KKN ternyata tidak sesantai yang dibayangkan. Selama tiga bulan ke depan, Naya dan Radi harus bahu-membahu mengurus puluhan program kerja (Proker). Mulai dari pemetaan infrastruktur desa, perbaikan irigasi (yang tentu saja Naya ahlinya), hingga urusan administrasi yang menumpuk.
Hampir setiap malam, Naya dan Radi duduk di teras posko, dikelilingi tumpukan berkas dan laptop.
"Nay, ini draf usulan buat renovasi balai desa udah gue revisi bagian RAB-nya. Tolong lo cek ya," ucap Radi sambil menyodorkan kertas.
Naya menerimanya, membacanya dengan teliti. "Radi, harga semen di toko depan nggak semurah ini. Lo pakai harga standar kota ya? Gue ganti ya angkanya."
Radi memperhatikan Naya yang sedang serius bekerja. "Arfan bener ya, lo kalau udah kerja nggak bisa diganggu. Tapi beneran, Nay, gue bersyukur banget sekelompok sama lo. KKN berasa lagi ngerjain proyek beneran."
Baru saja suasana mulai serius, suara knalpot motor yang sangat familiar terdengar dari kejauhan. Tak lama, sosok Arfan muncul dari kegelapan sawah, masih memakai jaket KKN Desa C yang berdebu.
"WOI! Kordes sama Sekretaris lagi pacaran apa lagi rapat proyek nih?" teriak Arfan sambil memarkirkan motornya asal-asalan.
Naya memutar bola matanya. "Arfan, ini udah jam sepuluh malem. Ngapain lo nyebrang desa?"
"Kangen lah! Ali sama Azka di desa sebelah sana lagi asyik makan durian hasil sogokan warga, gue di desa C kesepian cuma sama anak-anak Sastra yang hobi baca puisi," keluh Arfan sambil langsung menyambar cemilan di meja Naya. Dia menatap Radi dengan tatapan penuh selidik yang jahil. "Radi, awas ya lo, jangan modusin asdos gue. Inget, Naya ini 'aset' teknik sipil paling berharga."
Radi cuma tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Aman, Fan. Naya galak, gue nggak berani."
Meski terpisah kelompok dan dihantam proker KKN yang melelahkan selama tiga bulan, kehadiran Arfan yang hobi "patroli" ke desa Naya, serta kerjasama solid antara Naya dan Radi, membuat pengabdian masyarakat itu terasa seperti petualangan baru bagi Naya.
Kehidupan KKN di Desa B benar-benar menguras tenaga. Posko Naya—sebuah rumah tua milik warga yang dipinjamkan—kini penuh dengan tumpukan karton program kerja, botol mineral kosong, dan aroma kopi yang nggak pernah absen. Sebagai sekretaris, Naya adalah orang yang paling sibuk setiap akhir pekan. Dia harus menyusun Laporan Penyelenggaraan Mingguan (LPM) yang formatnya sangat kaku, sambil memastikan semua nota belanja proker tidak ada yang hilang.
Radi, sebagai Kordes, sering kali duduk di sebelah Naya sampai larut malam.
Bedanya dengan Arfan yang berisik, Radi lebih banyak diam tapi gerakannya pasti. Dia yang bagian menghadapi komplain warga kalau ada proker yang tersendat, dan Naya yang bagian merapikan administrasinya.
"Nay, ini nota semen buat perbaikan selokan di RW 03 kemarin. Simpen ya, nanti gue yang jelasin ke DPL kalau ditanya kenapa harganya naik," ucap Radi sambil menyodorkan selembar kertas lusuh.
Naya menerimanya tanpa menoleh dari laptop. "Taruh aja di map hijau, Di. Jangan dicampur sama nota konsumsi, pusing gue misahinnya."
Radi tersenyum tipis. Dia memperhatikan Naya yang rambutnya diikat asal-asalan dengan pensil terselip di telinga. Ada kekaguman yang mulai tumbuh, lebih dari sekadar rekan kerja. Malam itu, saat Naya pergi ke dapur posko untuk mengambil air, Radi diam-diam mengirim pesan singkat ke Arfan.
“Fan, si Naya kalau lagi serius gitu emang nggak bisa diganggu ya? Gue mau nawarin martabak aja ragu.”
Tak butuh waktu lama, balasan Arfan masuk:
“Hahaha! Jangan coba-coba kalau dia lagi megang laporan mingguan, bisa dilempar kalkulator lo. Tapi coba aja kasih kopi, biasanya luluh.”
Pagi harinya, suasana posko mendadak ramai. Suara knalpot motor yang sudah sangat dihafal Naya terdengar mendekat. Ali dan Azka datang dari Desa A, membawa karung berisi singkong dan beberapa ikat rambutan hasil pemberian warga desa mereka.
"Paketan dari Desa A datang! Hasil upeti warga buat Bu Sekretaris!" teruk Ali sambil membanting karung singkong di teras.
"Gila, Desa kalian makmur banget ya," sahut Azka sambil langsung mencari posisi rebahan di tikar posko. "Desa gue sama Ali isinya kebun semua, tiap hari disuguhin hasil bumi sampe kenyang."
Naya keluar dari dalam posko sambil tersenyum lebar—salah satu momen langka di mana Naya terlihat sangat lepas. "Pas banget, stok makanan kita lagi tipis. Makasih ya."
Tak lama kemudian, Arfan muncul dari Desa C. Penampilannya paling necis di antara mereka berempat, meskipun dia memakai jaket KKN yang sudah kusam. Arfan ini benar-benar jadi "bintang" di desanya sendiri.
"Woi! Pada kumpul nggak bilang-bilang!" Arfan masuk dengan gaya bos besar. "Tadi gue susah lepas dari Ibu-Ibu PKK di desa gue. Gue mau cabut aja ditahan, disuruh nyicipin urap lah, ditawarin kenalan sama anaknya yang baru lulus bidan lah. Pusing gue jadi orang ganteng di desa orang."
"Halah, paling lo yang tebar pesona," sindir Naya sambil mengupas rambutan.
"Sumpah, Nay! Tadi ada Ibu RW yang beneran nanya, 'Mas Arfan sudah ada calon belum? Anak saya baik lho, PNS pula'. Gue cuma bisa senyum-senyum f-boy aja kan," Arfan tertawa bangga, disambut sorakan "Ciee" dari Ali dan Azka.
Di tengah riuhnya obrolan mereka, Radi hanya sesekali menimpali. Dia lebih banyak memperhatikan cara Arfan berinteraksi dengan Naya—betapa Arfan tahu kapan harus menjahili Naya sampai marah dan kapan harus berhenti. Ada rasa iri sedikit di hati Radi melihat kedekatan yang sudah selevel keluarga itu.
Sore itu, mereka berempat (plus Radi) duduk di teras posko, menikmati rambutan dan singkong rebus di tengah hawa desa yang mulai dingin. Untuk sejenak, mereka lupa soal laporan mingguan, revisi proker, atau drama asisten dosen di kampus. Di teras posko Desa B itu, Naya merasa KKN-nya tidak terlalu buruk, meskipun dia harus berbagi ruang dengan empat cowok teknik yang kelakuannya nggak ada yang benar.
Bulan kedua KKN, tensi di posko Desa B makin tinggi. Bukan karena konflik antar anggota, tapi karena tumpukan logbook dan revisi proker yang seakan nggak ada habisnya. Naya, dengan kacamata yang nangkring di hidung dan rambut yang dicepol asal-asalan pakai pensil, sudah tiga jam nggak beranjak dari depan laptop.
Radi, yang duduk di seberangnya, sesekali mencuri pandang. Dia kagum melihat ketelitian Naya, tapi di sisi lain dia juga merasa perlu "masuk" ke dunianya Naya.
"Nay, istirahat dulu. Ini gue buatin kopi, takaran gulanya dikit kok kayak yang lo suka," ucap Radi sambil meletakkan gelas plastik di samping laptop Naya.
Naya mendongak sebentar, tersenyum tipis yang bikin jantung Radi agak olahraga.
"Makasih ya, Di. Sumpah, ini laporan mingguan formatnya ganti lagi, bikin pusing."
"Santai, bagian dokumentasi foto biar gue yang beresin nanti malam. Lo fokus di narasi sama lampiran keuangan aja," kata Radi tulus.
Malam itu, Radi yang penasaran akhirnya mengirim pesan ke Arfan lagi.
“Fan, Naya kalau lagi capek gitu biasanya suka diapain biar mood-nya balik? Tadi dia kayaknya pusing banget sama laporan.”
Arfan membalas dengan voice note sambil tertawa:
“Kasih seblak atau makanan pedas, Di! Tapi hati-hati, kalau dia lagi sensi gitu, mending lo diem aja sambil kerja di sampingnya. Dia suka cowok yang bisa diajak kerja bareng tanpa banyak nanya.”
Besoknya, Desa B heboh. Arfan datang bukan pakai motor, tapi nebeng mobil bak terbuka milik warga desanya yang lagi bawa muatan kelapa.
"BU SEKRETARIS! JANGAN GALAK-GALAK!" teriak Arfan dari atas bak mobil sambil melambaikan tangan ke arah posko.
Ali dan Azka sudah ada di sana lebih dulu. Mereka lagi asyik bakar singkong di halaman samping posko bareng anak-anak kecil desa. Azka bawa oleh-oleh madu hutan asli dari desanya, sementara Ali bawa satu plastik besar krupuk hasil industri rumah tangga di tempatnya.
"Gila lo, Fan. Ke sini aja gaya banget pake mobil bak," ledek Azka saat Arfan turun dengan gaya sok keren.
"Eits, ini namanya pendekatan kultural. Gue udah dianggap anak emas sama Pak Kades di Desa C," sombong Arfan. Dia langsung masuk ke posko dan duduk di samping Radi yang lagi ngerjain peta desa. "Gimana kawan? Aman? Naya nggak gigit kan?"
Radi cuma nyengir. "Aman, Fan. Lagi fokus dia di dalem."
Arfan masuk ke ruang tengah, melihat Naya yang masih berkutat dengan berkas. Dia langsung berdiri di belakang Naya dan memijat bahu Naya sekilas sebelum Naya sempat protes.
"Jangan kaku-kaku amat, Nay. Nanti kalau lo sakit, siapa yang mau marahin gue di kampus?"
"Arfan, geli! Lepas nggak!" Naya tertawa sambil berusaha menghindar, tapi wajah lelahnya mulai hilang.
Yang paling lucu memang fenomena Arfan di desanya sendiri. Saat mereka semua lagi asyik makan singkong bakar, HP Arfan bunyi terus.
"Halo? Oh, iya Bu RW... Enggak, Bu, saya lagi di desa sebelah. Apa? Mau dianterin opor? Waduh, jangan repot-repot Bu," ucap Arfan di telepon sambil pasang muka sok sopan tapi penuh kemenangan.
"Siapa lagi tuh?" tanya Ali sambil ngunyah singkong.
"Ibu RW 02. Beliau kekeh banget mau ngenalin gue sama keponakannya yang baru pulang dari Kairo. Katanya gue 'pemuda teladan' karena rajin ikut tahlilan sama bantu benerin toa masjid," jawab Arfan santai.
"Gue nggak habis pikir, kenapa Ibu-Ibu pada doyan sama modelan f-boy kayak lo ya?" Naya menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena gue itu multitalenta, Nay. Bisa ngerjain struktur, bisa ngambil hati mertua," Arfan mengedipkan sebelah matanya ke arah Naya, lalu melirik Radi yang dari tadi cuma nyimak.
Persahabatan mereka di tengah hiruk-pikuk KKN itu jadi hiburan tersendiri. Di balik lelahnya laporan mingguan dan proker yang numpuk, momen-momen kumpul seperti ini—dengan Ali dan Azka yang bawa hasil kebun, Radi yang diam-diam perhatian, dan Arfan yang jadi kembang desa—adalah alasan kenapa Naya merasa tiga bulan KKN ini bakal jadi memori yang nggak akan terlupakan.
Wah, Radi makin tahu nih "celah" Naya dari Arfan!
Arfan memang juara kalau soal urusan lobi-lobi. Di bulan ketiga KKN ini, dia sukses meminjam mobil pick-up terbuka milik juragan kelapa di desanya dengan alasan "mobilisasi massa untuk integrasi antar-desa". Padahal, intinya dia cuma mau angkut teman-temannya ke pesta rakyat di Desa A.
Sore itu, Arfan menjemput anak-anak kelompoknya, lalu mampir ke Desa B untuk mengangkut anggota kelompok Radi. Suasana riuh sekali di atas bak mobil yang beralaskan karung goni itu. Sementara itu, Radi memilih jalan yang lebih "eksekutif" dengan membonceng Naya menggunakan motor dinas milik Pak Sekdes yang dipinjamkan kepadanya.
"Gila, ini KKN apa nikahan anak bupati?" celetuk Radi saat mereka memasuki area pesta di Desa A.
Pesta itu benar-benar megah untuk ukuran desa. Ada panggung besar dengan artis kabupaten yang sedang check sound, tenda-tenda makanan yang aromanya menggoda, serta Ali dan Azka yang tampak sibuk mondar-mandir memakai batik, koordinasi sana-sini sebagai panitia yang sukses "menjual" proker mereka ke perangkat desa.
Baru saja turun dari motor dan bak pick-up, langkah Arfan tiba-tiba melambat. Di dekat barisan kursi tamu, dia berpapasan dengan seorang perempuan yang tampak familiar. Itu Dita, mantan pertamanya zaman sekolah dulu. Arfan yang biasanya pecicilan mendadak agak canggung tapi wajahnya berbinar. Mereka pun terlibat obrolan panjang yang kelihatannya sangat seru, membawa mereka kembali ke masa-masa remaja.
Naya memilih menjauh dari kerumunan sampai matanya menangkap sosok laki-laki di sudut tenda. Jantungnya berdegup kencang karena senang.
"Aris?" panggil Naya refleks.
Aris adalah teman satu kampung Naya yang sudah lima tahun tidak bertemu. Naya langsung menghampirinya dengan senyum lebar, merasa sangat beruntung bisa bertemu "orang rumah" di tengah hiruk-pikuk KKN ini.
"Aris! Ya ampun, kok bisa ada di sini?" sapa Naya antusias.
Namun, Aris tampak kaget dan sedikit kaku.
"Eh... Naya. Iya, gue diundang pacar gue. Dia sekelompok sama anak-anak di sini," jawab Aris singkat.
Percakapan mereka terasa berat sebelah. Naya yang sudah sangat semangat bertanya kabar orang-orang di kampung halaman hanya dibalas dengan jawaban-jawaban pendek yang canggung. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak bertemu, atau memang dunianya sudah berbeda. Puncaknya, saat pacar Aris datang, Aris mendadak jadi sangat semangat dan tertawa lepas, seolah lupa bahwa tadi dia sedang bicara dengan teman lamanya.
Naya menelan rasa kecewa. Dia tidak mau jadi pengganggu. Dengan langkah tenang, dia membalikkan badan menuju deretan meja prasmanan. Dia butuh asupan makanan untuk menetralkan rasa "asing" yang baru saja dia rasakan.
Naya mengambil piring, menyendok nasi dan lauk dengan gerakan yang agak cepat—tanda kalau dia sedang menutupi kekesalannya. Dia tidak sadar bahwa sejak tadi Radi terus mengikutinya dari samping.
Malam semakin larut, tapi energi di Desa A justru semakin meledak. Suara musik dangdut koplo yang menghentak dari panggung besar benar-benar membakar suasana. Dan seperti yang sudah diduga, Arfan tidak bisa hanya duduk diam.
Arfan benar-benar menggila. Dia naik ke panggung, merebut mik dari penyanyi utama, dan membawakan beberapa lagu hits dengan gaya yang sangat luwes. Suaranya ternyata lumayan oke, ditambah aksi panggungnya yang penuh tebar pesona, membuat ibu-ibu desa sampai histeris. Arfan bahkan berkali-kali disawer oleh warga, dari uang ribuan sampai ada yang memberinya kalung bunga plastik.
Ali dan Azka yang akhirnya bisa istirahat setelah bergantian jaga dengan teman kelompoknya, langsung bergabung di bawah panggung sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Arfan. Tak mau kalah, Radi pun ikut ditarik Arfan naik ke atas. Radi yang biasanya tenang, ternyata punya sisi asyik juga saat memegang tamborin, ikut mengiringi kegilaan Arfan di atas sana.
Naya yang sedang berjalan hendak menghampiri Ali dan Azka, kembali berpapasan dengan Aris di dekat jalur masuk tenda. Kali ini, tidak ada lagi rasa menggebu-gebu di hati Naya untuk bertanya ini-itu. Naya hanya melemparkan senyum tulus sebagai tanda hormat pada kenangan masa kecil mereka. Aris pun membalas dengan senyum yang sama—sebuah senyum canggung namun menghargai, sebelum ia kembali fokus pada pacarnya. Naya merasa bebannya terangkat; dia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa orang bisa berubah.
Tiba-tiba, Arfan turun dari panggung sambil masih memegang mik, keringat bercucuran di pelipisnya tapi matanya berkilat senang. Dia langsung menerobos kerumunan dan menarik tangan Naya dengan paksa.
"Woi, Bu Asdos! Jangan cuma nonton! Turun sini!" teriak Arfan di tengah kebisingan.
"Arfan, apaan sih! Gue nggak bisa joget!" protes Naya sambil berusaha melepaskan diri.
Tapi Arfan tidak peduli. Dia menarik Naya tepat ke depan panggung. Dengan tingkah konyolnya, Arfan mulai berjoget memutari Naya. Bukannya menyawer dengan uang, Arfan malah mengambil buah rambutan dan kelengkeng dari saku jaket KKN-nya hasil pemberian warga tadi, lalu "menyawer" Naya dengan buah-buahan itu satu per satu ke arah tangannya.
"Cieee Naya! Goyang dong, Nay!" teriak Ali dan Azka memprovokasi dari samping.
Radi yang baru turun dari panggung ikut tertawa melihat pemandangan itu. Naya yang awalnya malu setengah mati, akhirnya tidak bisa menahan tawa. Atmosfer malam itu terlalu menular. Kegembiraan warga, tawa sahabat-sahabatnya, dan tingkah ajaib Arfan akhirnya meruntuhkan pertahanan Naya.
Naya pun menyerah. Dia ikut menggoyangkan bahunya tipis-tipis, mengikuti gerakan konyol Arfan sambil tertawa lepas. Untuk sejenak, dia lupa soal laporan KKN yang menumpuk, lupa soal canggungnya bertemu Aris, dan lupa soal status asdosnya yang biasanya jaim. Malam itu, di bawah lampu panggung Desa A, Naya hanya ingin menikmati kegilaan bersama sahabat-sahabat tekniknya yang luar biasa ini.
Penyebabnya sepele tapi fatal: Naya lupa kalau dia juga manusia, bukan beton bertulang yang tahan segala cuaca. Setelah seminggu penuh begadang mengurus laporan akhir dan bolak-balik ke kota kabupaten untuk belanja kebutuhan perpisahan bareng Radi, tubuh Naya akhirnya menyerah. Di tengah rapat koordinasi dengan Ibu-ibu PKK, pandangan Naya mendadak kabur, dan detik berikutnya dunia menjadi gelap.
Naya dilarikan ke Klinik Desa A—satu-satunya tempat dengan fasilitas rawat inap yang memadai di wilayah itu. Radi tidak bisa menemani karena harus menjaga posko yang sedang gaduh mengurus persiapan panggung, sementara Ali dan Azka sedang sibuk dengan warga desa mereka.
Saat Naya mulai siuman, aroma alkohol dan obat-obatan menusuk indranya. Dia merasakan pergelangan tangannya dingin. Saat membuka mata, dia melihat seorang perawat perempuan dengan jas putih bersih sedang mengatur tetesan infus.
Naya mengerutkan kening, mencoba memfokuskan penglihatannya. Wajah itu... dia mengenalinya. Dia adalah Sarah, perempuan yang malam itu berdiri di samping Aris di tengah pesta rakyat. Naya hanya diam, menatap Sarah yang bekerja dengan sangat cekatan dan profesional. Sarah sempat menatap Naya sebentar, memberikan anggukan sopan khas tenaga medis tanpa ada obrolan pribadi, lalu keluar meninggalkan ruangan. Naya hanya sekadar tahu siapa dia, tak lebih.
Tiba-tiba, keheningan ruangan itu pecah berkeping-keping.
"NAYA! MANA NAYA?! JANGAN MATI DULU, NAY!"
Pintu ruang perawatan terbuka dengan kasar. Arfan masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya panik luar biasa sampai lupa mengetuk pintu. Dia masih memakai jaket KKN Desa C yang berdebu. Begitu melihat Naya yang terbaring pucat dengan selang infus, mulutnya langsung " running" tanpa rem.
"Gila lo ya! Sok kuat banget jadi orang! Gue udah bilang kalau pusing tuh tidur, bukan malah belanja ke kota pas matahari lagi terik-teriknya!" Arfan berdiri di samping tempat tidur, tangannya bergerak panik entah mau memegang apa.
"Liat nih, jadi sayur kan lo! Mana pucat banget lagi, udah kayak tembok yang belum diaci! Nay, denger nggak sih? Kalau lo sakit gini, siapa yang mau gue ajak berantem di kampus nanti?"
Naya menghela napas berat. Kepalanya masih berdenyut, dan suara Arfan seperti suara mesin molen di dalam ruangan sempit.
"Arfan... diem. Berisik," gumam Naya lemah.
"Gimana mau diem? Gue tadi lagi rapat desa langsung cabut pas denger kabar lo pingsan! Lo tuh emang ya, asdos paling keras kepala se-Indonesia, dikasih tahu nggak pernah—"
Cubit!
Naya menggunakan sisa tenaganya untuk menarik dan mencubit keras punggung tangan Arfan yang sedang bertumpu di pinggiran kasur.
"AW! Sakit, Nay! Lo lagi diinfus juga masih sempat-sempatnya nyiksa gue!" Arfan mengaduh, mengusap tangannya yang memerah, tapi suaranya langsung mengecil.
"Makanya... jangan teriak-teriak. Gue mau istirahat," bisik Naya sambil memejamkan mata kembali. Arfan akhirnya bungkam, menarik kursi dan duduk dengan gelisah di samping Naya sampai cairan infus itu habis.
Begitu cairan infus habis sore harinya, teman-teman satu posko Naya datang menjemput. Naya kembali ke Desa B, sementara Arfan terpaksa balik ke desanya karena urusan penutupan KKN.
Dua minggu kemudian, hari penarikan tiba. Suasananya benar-benar campur aduk. Di Desa C, pelepasan Arfan lebih mirip perpisahan bintang film. Ibu-ibu PKK menangis tersedu-sedu, memberinya bekal rendang dan sambal satu toples besar, bahkan warga memberinya hadiah kenang-kenangan berupa ukiran kayu karena Arfan dianggap "anak emas" desa. Arfan pulang dengan gaya dramatis, melambai-lambai dari atas mobil bak terbuka seolah sedang kampanye.
Sementara itu, di Desa A, Ali dan Azka dilepas dengan tawa warga. Karena sering membantu di kandang, mereka masing-masing dihadiahi seekor ayam jago hidup. Alhasil, sepanjang jalan pulang, mobil mereka diwarnai suara kokok ayam yang bikin sakit telinga.
Kembali ke kampus, mereka semua berkumpul di lorong fakultas untuk penyerahan laporan akhir. Di tengah keramaian mahasiswa yang melepas jaket KKN, Radi mengajak Naya menepi sejenak di dekat jendela besar yang menghadap lapangan. Arfan ada di sana, bersandar di pilar, pura-pura main HP padahal telinganya sedang dipasang tajam ke arah mereka.
"Nay," Radi memulai, suaranya tenang tapi ada getaran gugup di sana. "Makasih ya buat tiga bulan kemarin. Gue bangga bisa kerja bareng lo. Dan... gue mau jujur aja, gue naksir sama lo, Nay. Gue cuma mau lo tahu itu sebelum kita sibuk lagi sama urusan masing-masing."
Suasana mendadak hening. Naya menatap Radi cukup lama. Tidak ada kemarahan, tidak ada rasa risih. Naya hanya memberikan senyum paling tulus yang pernah dia miliki—senyum yang menandakan rasa hormat.
"Makasih banyak ya, Radi. Gue sangat menghargai perasaan lo, dan makasih sudah jujur ke gue," jawab Naya tenang.
Hanya itu. Sebuah ucapan terima kasih tanpa jawaban "iya". Radi yang mengerti kode itu langsung menghela napas lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya.
Tiba-tiba, tawa Arfan meledak dari balik pilar.
"HAHAHA! Gila! Radi, man! Lo barusan kena teknik 'Beton Bertulang' dari Naya! Kuat banget penolakannya, nggak ada celah buat masuk!" Arfan menghampiri mereka sambil memegangi perutnya yang mulas karena tertawa.
"Tapi gue akuin nyali lo gede, Di!"
Radi tidak tersinggung. Dia ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa, Fan. Yang penting plong. Daripada jadi hantu pas ngerjain tugas besar semester depan."
Naya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua cowok di depannya itu. Meskipun ada perasaan yang tidak terbalas, fondasi persahabatan mereka di teknik sipil tetap berdiri kokoh, tak tergoyahkan oleh drama apa pun.
Euforia KKN menguap secepat bensin di bawah terik matahari. Begitu menapakkan kaki kembali di koridor Fakultas Teknik, suasana "pengabdian masyarakat" langsung berganti dengan aura mencekam khas semester tua: Mata Kuliah Tugas Akhir.
Kantin Teknik siang itu penuh sesak. Aroma soto ayam beradu dengan bau kertas print-printan dan keringat mahasiswa yang mondar-mandir membawa tabung gambar. Di meja pojok favorit mereka, "trio maut" plus Naya sedang berkumpul, namun pemandangannya berbeda. Tidak ada lagi tawa lepas; yang ada hanyalah empat laptop terbuka, kabel charger yang melilit seperti mi goreng, dan wajah-wajah yang tampak lima tahun lebih tua.
"Gue mau ambil struktur, tapi denger-denger Pak Bambang lagi killer. Masa asistensi judul aja ditolak tiga kali," keluh Azka sambil mengacak rambutnya frustrasi.
"Mending lo daripada gue," sahut Ali sambil mengunyah mendoan dengan tatapan kosong ke layar.
"Gue mau ambil Manajemen Konstruksi, tapi ide penjadwalan gue dibilang 'terlalu standar' sama dosen wali. Standar dari mananya? Ini udah pake simulasi Monte Carlo!"
Naya sendiri hanya diam, jemarinya lincah mengetik jurnal referensi. Dia sudah selangkah di depan—sedang menyusun draf judul tentang analisis stabilitas lereng. Di sebelahnya, Arfan tampak paling santai, tapi aslinya dia sedang pusing mencari celah judul yang "nggak berat-berat amat tapi lulus cepat".
Tiba-tiba, seorang cowok dengan jaket himpunan mendekat. Itu Radi. Sejak pengakuan jujurnya di hari pelepasan KKN, Radi memang tidak menjauh. Dia justru sering mampir ke meja mereka, menunjukkan kedewasaan bahwa penolakan Naya tidak memutus silaturahmi.
"Gimana, Nay? Judul stabilitas lereng lo udah di-ACC?" tanya Radi sambil menaruh botol air mineral dingin di meja Naya—kebiasaan kecil yang masih sering dia lakukan.
Naya mendongak, tersenyum tipis.
"Belum, Di. Masih revisi di bagian parameter tanahnya. Lo sendiri gimana? Jadi ambil Geoteknik?"
"Jadi dong. Biar kalau konsultasi bisa barengan sama lo," canda Radi kalem, yang langsung disambut deheman kencang dari Arfan.
"Ehem! Debu KKN masih nempel nih kayaknya, masih aja usahanya," goda Arfan sambil menyenggol bahu Radi.
Belum sempat Radi membalas, tiba-tiba suasana makin ramai. Raka, junior Naya yang dulu sering menelepon saat KKN, muncul dari arah koridor dengan wajah sumringah. Di tangannya ada dua cup kopi kekinian.
"Halo Kak Naya! Eh, ada Bang Arfan, Bang Ali, Bang Azka juga," sapa Raka dengan energi yang sangat kontras dengan senior-seniornya yang sudah layu itu. Dia langsung menaruh satu kopi di depan Naya.
"Ini Kak, tadi beli kelebihan. Buat nemenin ngetik skripsi biar nggak ngantuk."
Azka langsung bersiul panjang.
"Wah, saingan berat nih, Di. Senior vs Junior. Yang satu main halus lewat air mineral, yang satu main hard selling pake kopi."
Naya memutar bola matanya, merasa mejanya mulai terlalu penuh oleh "atensi".
"Makasih, Rak. Tapi lain kali nggak usah repot-repot. Gue lagi fokus nyari referensi."
"Enggak repot kok, Kak! Oh iya, Kak Naya, nanti sore ada waktu nggak? Mau tanya soal metodologi penelitian, dikit aja," tanya Raka dengan mata berbinar penuh harap.
Arfan langsung merangkul pundak Raka, gaya senior sok bijak. "Duh, Raka sayang... Kak Naya ini lagi dikejar deadline judul skripsi. Kalau lo mau tanya metodologi, mending tanya gue aja. Gue jamin metodologi gue paling jago kalau soal cara lulus tanpa duka."
"Ah, Bang Arfan mah bercanda terus," Raka nyengir canggung, melirik Naya yang sudah kembali tenggelam dalam layar laptopnya.
Di meja kantin yang riuh itu, Naya merasa dunianya benar-benar hectic. Di satu sisi, dia dihantui oleh bayang-bayang revisi judul dan bab satu yang mengerikan. Di sisi lain, dia dikelilingi oleh para pria dengan berbagai macam bentuk perhatian—dari Radi yang tenang dan dewasa, Arfan yang selalu ada dengan candaan pelindungnya, hingga Raka yang gigih sebagai junior.
Naya menghela napas, menyeruput kopi dari Raka, lalu meminum air dari Radi.
Semester akhir benar-benar mengubah peta pergaulan mereka. Karena mendapatkan Dosen Pembimbing (Dospem) yang sama, Naya dan Azka jadi seperti paket hemat—di mana ada Naya, di situ ada Azka. Mereka sering terlihat duduk mojok di perpustakaan, beradu argumen soal metodologi penelitian, atau lari-larian mengejar dospem yang jadwalnya lebih padat dari jadwal artis.
Sementara itu, Ali dan Arfan harus berjuang secara mandiri karena dospem mereka berbeda. Syukurnya, judul skripsi mereka semua sudah resmi di-ACC. Sekarang mereka sedang berada di fase paling "berdarah": mencari jurnal referensi dan menyusun Metpen (Metodologi Penelitian) sebelum benar-benar turun ke lab atau lapangan.
Di tengah tekanan skripsi itu, ada satu plot twist yang bikin heboh basecamp: Arfan balikan sama Dita.
Iya, Dita—cinta pertamanya yang tidak sengaja ketemu saat acara KKN di Desa A kemarin. Ternyata obrolan panjang di bawah panggung dangdut itu berlanjut serius. Sore itu, Arfan membawa Dita ke kantin teknik untuk dikenalkan secara resmi sebagai pacar, bukan lagi sekadar mantan.
"Kenalin, ini Dita. Udah pada tahu kan? Tapi sekarang statusnya udah bukan alumni hati lagi," ucap Arfan dengan cengiran lebarnya yang khas.
Naya, Ali, dan Azka sempat saling lirik sebelum akhirnya tertawa. Berbeda dengan pacar-pacar Arfan sebelumnya yang sering merasa insecure dengan persahabatan mereka, Dita ini tipenya sangat tenang. Mungkin karena dia cinta pertama Arfan, dia sudah paham betul luar dalam cowok itu.
Dita ternyata sangat suportif. Dia tidak keberatan saat mereka berempat asyik ngobrol pakai bahasa teknik yang membosankan. Bahkan, Dita sering membawakan kotak bekal berisi potongan buah atau camilan buat mereka yang lagi pusing revisi.
"Santai aja, Nay. Gue tahu kok kalau Arfan nggak ada lo atau Ali sama Azka, skripsinya mungkin cuma bakal jadi kumpulan kertas kosong," canda Dita saat mereka duduk bareng di kantin.
Naya tersenyum lega.
"Syukurlah lo paham, Dit. Soalnya si Arfan ini kalau nggak dipantau metodologinya bisa ngaco ke mana-mana."
"Aman, Dit. Naya sama Azka emang lagi sering bareng karena dospemnya sama, tapi tenang aja, pawangnya Arfan kan sekarang udah balik," tambah Ali sambil menyikat mendoannya.
Kehadiran Dita membawa hawa segar. Arfan jadi lebih disiplin ngerjain jurnal karena "diancam" Dita nggak bakal diajak jalan kalau bab satu belum beres. Hubungan mereka berjalan sangat sehat; Dita bisa masuk ke lingkaran persahabatan mereka tanpa merusak dinamika yang sudah ada selama bertahun-tahun.
Melihat Arfan yang sudah "selesai" dengan urusan hatinya, Naya merasa ikut senang. Kini fokus mereka kembali ke layar laptop masing-masing. Di atas meja kantin yang penuh dengan tumpukan jurnal dan gelas kopi, mereka berempat (ditambah Dita yang sesekali menemani) mulai menata masa depan, selangkah demi selangkah menuju gelar sarjana.
Prediksi Arfan benar, Naya memang "beton" di antara mereka. Di saat ketiga sahabatnya masih berkutat dengan error di program simulasi atau data lapangan yang tidak konsisten, Naya sudah berhasil menjilid draf final skripsinya dengan sampul berwarna hijau tua. Dia menjadi orang pertama di angkatan mereka yang dijadwalkan menempuh ujian sidang.
Hari itu, suasana di depan ruang sidang lantai dua Gedung Sipil terasa sangat tegang. Naya, yang biasanya tenang, terlihat berkali-kali merapikan kemeja putih dan blazer hitamnya. Di tangannya, terselip maket kecil dan bundel materi presentasi.
"Tenang, Nay. Tarik napas... buang. Inget, lo itu asdos. Dosen penguji itu cuma temen sejawat yang lagi nanya-nanya doang," celetuk Arfan yang sudah stand-by di depan pintu ruang sidang sejak pagi.
Naya menoleh ke arah tiga sahabatnya. Pemandangannya sungguh kontras. Arfan, Ali, dan Azka datang dengan gaya khas mereka: rambut agak berantakan karena habis begadang revisi, tapi tetap bela-belain hadir buat kasih dukungan moral. Ali bahkan membawa satu plastik besar berisi air mineral dan cokelat, sementara Azka memegang papan tulis kecil bertuliskan:
"SIDANGNYA BENTAR, REVISINYA YANG LAMA. SEMANGAT BU ASISTEN!"
"Kalian bukannya lanjut asistensi malah di sini," bisik Naya, meski dalam hati dia merasa jauh lebih tenang melihat mereka.
"Alah, asistensi Pak Baskoro bisa nunggu satu jam lah. Masa momen bersejarah singa sipil ini kita lewatin?" sahut Ali sambil nyengir.
Pintu terbuka, dan nama Naya dipanggil. Sebelum masuk, Arfan menepuk bahu Naya pelan. "Hajar, Nay. Tunjukin kalau anak Teknik Sipil bukan cuma jago demo, tapi jago struktur juga."
Dua jam berlalu dengan mencekam bagi tiga pria yang menunggu di luar. Mereka sesekali menempelkan telinga ke pintu kayu yang tebal itu, berusaha mendengarkan apakah ada suara bentakan dari dosen penguji.
Begitu pintu terbuka, Naya keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi ada senyum tipis di bibirnya.
"Gimana? Gimana?" serbu Azka nggak sabaran.
Naya mengangkat jempolnya pelan.
"Lulus. Revisi dikit di bagian analisis numerik."
"WAAA! KAN APA GUE BILANG!" Arfan langsung bersorak paling kencang sampai ditegur satpam lantai dua. Ali dan Azka langsung menjabat tangan Naya dengan bangga.
Di tengah kegembiraan itu, Radi juga muncul dari balik koridor membawa sebuket bunga kecil—sederhana tapi manis. "Selamat ya, Nay. Gelar S.T. udah di depan mata," ucap Radi tulus. Raka pun tak ketinggalan, junior itu membawakan kopi favorit Naya sebagai ucapan selamat.
Naya menatap mereka semua—tiga sahabat yang sudah melewatinya berbagai rintangan mulai dari KKN sampai gas air mata, serta Radi yang selalu suportif. Meskipun dia yang paling cepat selesai, Naya tahu dia tak akan sampai di titik ini tanpa dukungan "beban-beban" kesayangannya itu.
"Makasih ya semuanya," ucap Naya tulus. "Sekarang, giliran gue yang bakal neror kalian bertiga biar cepet nyusul ujian. Nggak ada alasan revisi lagi!"
Arfan langsung pura-pura pingsan di bahu Ali. "Duh, dapet gelar S.T. malah makin galak. Tolong, Ali, bawa gue ke kantin sekarang juga sebelum gue kena omel revisi!"
Dua minggu kemudian, Arfan, Ali dan Azka menyusul, mereka ujian dengan lancer. Dan sampailah mereka pada hari Wisuda.
Setelah prosesi wisuda yang melelahkan itu selesai, mereka berempat—masih lengkap dengan toga dan ijazah di tangan—memisahkan diri dari kerumunan wisudawan lain. Mereka duduk lesehan di tangga tribun stadion kampus, tempat yang dulu sering mereka pakai buat bolos praktikum.
Tawa yang tadinya meledak-ledak perlahan berubah jadi haru. Mereka mengulas balik semuanya; dari momen Naya pingsan di KKN, demo Omnibus Law yang bikin deg-degan, sampai drama revisi bab empat yang hampir membuat mereka menyerah.
"Gila ya, kita beneran lulus bareng," gumam Ali sambil menatap toganya.
Arfan yang biasanya paling berisik, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Kalau nggak ada Naya yang neror kita tiap malem, mungkin gue masih jadi mahasiswa abadi sekarang." Mereka tertawa sambil sesenggukan, sebuah momen emosional yang murni tanpa dibuat-buat.
Sore itu juga menjadi momen perkenalan antar keluarga. Orang tua Arfan yang ternyata sangat ramah menyapa Naya, Ali, dan Azka. Ibu Arfan bahkan memeluk Naya erat, berterima kasih karena sudah "menjinakkan" anak laki-lakinya yang nakal itu selama kuliah.
Sebaliknya, ini juga pertama kalinya Arfan, Ali, dan Azka bertemu orang tua Naya. Ternyata, sifat "tegas tapi baik" Naya itu turun langsung dari ayahnya. Ayah Naya sangat humble, beliau mengajak mereka mengobrol layaknya teman lama, membuat suasana kaku di hari wisuda itu mencair seketika.
Begitu euforia wisuda usai, realita dunia kerja langsung memisahkan mereka.
Ali terpilih masuk ke program magang bergengsi di salah satu BUMN konstruksi terbesar. Dia harus pindah ke luar kota untuk ditempatkan di proyek pembangunan infrastruktur strategis. Ali pergi dengan membawa tas carrier besarnya, siap menjadi "orang lapangan" sejati.
Azka pun tidak kalah jauh. Dia diterima di salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia Timur. Dengan langkah mantap, dia terbang ke Sulawesi, mengejar mimpi sekaligus mengumpulkan modal untuk masa depannya bersama Dinda.
Sementara itu, nasib unik menimpa Naya dan Arfan.
Ayah Arfan, yang ternyata memiliki perusahaan konstruksi keluarga, melihat potensi besar pada diri Naya. Beliau secara khusus mengajak Naya untuk bergabung dan turun langsung menangani proyek besar perusahaan mereka.
"Nay, temenin si Arfan. Kalau dia sendiri yang pegang proyek, bisa-bisa semennya kebanyakan air semua," canda Ayah Arfan saat menawarkan posisi itu.
Naya yang melihat ini sebagai tantangan besar akhirnya setuju. Jadilah Naya dan Arfan kembali menjadi "satu tim". Bedanya, kali ini bukan lagi mengerjakan tugas kuliah, melainkan mengawasi alat berat, menghitung RAB proyek miliaran rupiah, dan beradu argumen di tengah debu lapangan.
"Emang takdir lo kayaknya harus jadi mandor gue selamanya, Nay," celetuk Arfan saat mereka pertama kali meninjau lokasi proyek dengan memakai safety vest dan helm proyek yang seragam.
Naya cuma memutar bola mata sambil mengecek gambar teknik di tangannya.
"Makanya kerjanya yang bener. Gue di sini digaji profesional, bukan lagi bantuin lo gratisan kayak zaman skripsi!"
Meski Ali dan Azka sudah di tempat jauh, komunikasi di grup WhatsApp "Trio Maut + 1" tetap ramai. Namun di lapangan, kini hanya ada Naya dan Arfan, dua sahabat yang kini mulai membangun fondasi masa depan bersama di bawah bendera perusahaan yang sama.
Dunia kerja ternyata jauh lebih sunyi daripada koridor kampus. Kesibukan masing-masing membuat grup WhatsApp yang dulunya berisik, kini lebih sering berisi kiriman foto progres proyek atau keluhan singkat tentang jam tidur yang kurang.
Ali kini benar-benar menjadi "anak proyek" sejati di BUMN. Tinggal di barak proyek di pelosok Jawa Tengah, dia jauh dari hiruk-pikuk kota dan kenyamanan rumah. Ali belajar artinya tanggung jawab saat harus memimpin ratusan pekerja yang usianya jauh di atasnya. Sore-sorenya sering ia habiskan dengan duduk di atas tumpukan besi tulangan, menatap matahari terbenam sambil makan nasi bungkus, sesekali melakukan video call dengan ibunya hanya untuk sekadar pamer kalau dia sudah bisa memakai helm proyek dengan gagah.
Di belahan Indonesia lain, Azka bergelut dengan debu nikel di Sulawesi. Jauh dari Dinda dan teman-temannya, Azka menjadi lebih pendiam dan tangguh. Dia harus beradaptasi dengan lingkungan tambang yang keras dan jam kerja yang tidak menentu. Hiburan satu-satunya adalah sinyal wifi di mess karyawan yang sering naik-turun saat dia mencoba berkabar dengan teman-temannya di Jawa.
Sementara itu, di Bandung, Naya dan Arfan menjadi pasangan maut di bawah perusahaan ayah Arfan. Mereka selalu satu paket; Arfan yang lincah menangani negosiasi dan klien, sementara Naya adalah otak di balik teknis dan pengawasan lapangan.
Namun, kejutan muncul saat sebuah proyek besar di pinggiran Bandung mengharuskan perusahaan mereka bekerja sama dengan konsultan manajemen konstruksi dari Jakarta. Siapa sangka, perwakilan konsultan yang dikirim adalah Radi.
Radi ternyata sudah sangat matang. Dia tidak lagi ragu-ragu. Takdir membawa mereka bertiga berada di satu mess yang sama di area proyek tersebut karena intensitas pekerjaan yang sangat tinggi.
Rutinitas mereka berubah menjadi siklus yang melelahkan namun seru:
Siang Hari: Mereka bertiga sering terlihat berdiri di tengah debu proyek, memakai rompi safety, berdebat panas dengan mandor soal ketidaksesuaian spesifikasi material. Naya yang galak, Arfan yang menengahi dengan candaan, dan Radi yang selalu menengahi dengan data teknis yang akurat.
Sore Hari: Momen CCO (Contract Change Order) menjadi panggung debat mereka. Radi sebagai konsultan sangat teliti, membuat Naya sering gemas karena perhitungannya dikuliti habis-habisan oleh Radi di depan klien.
Malam Hari: Alih-alih istirahat, mereka bertiga sering "mengungsi" ke kafe di daerah asri Bandung Utara. Bukan untuk kencan, tapi untuk mengerjakan laporan mingguan yang menumpuk.
"Nay, ini kalau lo maksa pake mutu beton segini di bagian ini, progres kita bakal lambat karena pengeringannya beda," ujar Radi sambil menunjuk layar laptop di sebuah kafe remang-remang.
"Tapi itu yang paling aman secara biaya, Radi. Gue udah hitung volumenya," sahut Naya sambil menyeruput kopi hitamnya.
Arfan, yang duduk di antara mereka, cuma bisa geleng-geleng kepala sambil memakan camilannya. "Gue berasa lagi kuliah semester sepuluh kalau duduk bareng kalian. Proyek, debat, proyek, debat. Mbok ya bahas yang lain, misalnya kapan kita liburan ke tempat Ali atau Azka?"
Radi tersenyum, menatap Naya yang masih fokus ke layar.
"Minggu depan habis deadline ini kelar, gue yang traktir makan enak. Gimana?"
Naya mendongak, matanya bertemu dengan mata Radi yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan berwibawa. Ada rasa kagum yang diam-diam tumbuh; Radi bukan lagi cowok yang dulu dia tolak dengan halus, melainkan rekan kerja yang sangat kompeten dan bisa mengimbangi keras kepalanya.
Persahabatan mereka kini naik level. Dari teman satu almamater menjadi rekan sejawat yang saling mengandalkan di bawah langit Bandung yang dingin.
Malam itu Bandung lagi syahdu-syahdunya. Arfan sudah melesat ke Jakarta, meninggalkan Naya sendirian yang sebenarnya lagi malas balik ke mess karena bosan lihat tembok kamar. Pas banget, Radi yang baru selesai cek laporan di kantor lapangan melihat Naya lagi bengong.
"Nay, daripada bengong nungguin semen kering, mending cari udara sejuk yuk? Gue tahu tempat kopi enak dekat sini," ajak Radi.
Naya yang memang lagi butuh asupan kafein cuma mengangguk.
"Boleh, tapi jangan bahas kerjaan ya. Kuping gue udah panas dengerin omelan mandor tadi siang."
Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe outdoor dengan pemandangan lampu kota Bandung di kejauhan. Awalnya mereka memang masih bahas hal-hal umum, tapi perlahan suasana jadi lebih cair. Radi yang sekarang memang beda banget. Dia nggak kaku lagi, pembawaannya tenang, dan bisa diajak bercanda tanpa harus bawa-bawa rumus.
"Nay," panggil Radi setelah mereka cukup lama terdiam menikmati angin malam.
"Hmm?"
"Lo nggak bosen apa? Hidup lo isinya cuma helm proyek, sepatu safety, sama berantem sama Arfan tiap hari?" tanya Radi sambil tersenyum tipis.
Naya tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kadang bosen sih, Di. Tapi ya gimana, ini kan yang gue mau dari dulu. Emangnya kenapa? Kelihatan kasihan banget ya gue?"
"Nggak kasihan, cuma... sayang aja," Radi menatap Naya dalam-dalam, kali ini tatapannya nggak bikin risih, tapi bikin nyaman. "Lo tuh hebat, tapi lo juga butuh jeda. Lo butuh seseorang yang bisa diajak ngomongin hal selain masalah teknis. Gue lihat lo makin asyik sendiri sejak kita lulus."
Naya tertegun sebentar. Dia jarang banget ditanya hal sedalam ini.
"Ya... mungkin emang belum ada yang pas aja kali ya, Di. Lagian siapa yang mau sama cewek yang tiap hari bau debu proyek?"
Radi terkekeh, suaranya kedengaran rendah dan tulus.
"Gue rasa banyak yang mau. Cuma mungkin mereka minder karena lo terlalu keren. Atau... mungkin lo yang terlalu nutup diri?"
Radi memajukan sedikit posisi duduknya.
"Gue cuma mau tanya satu hal. Sebenarnya, di hidup lo sekarang, masih ada ruang nggak sih buat orang baru? Atau jangan-jangan hati lo juga udah lo bangun pake beton bertulang?"
Naya langsung tertawa lepas mendengar itu.
"Tuh kan! Baru juga dibilang jangan bahas teknik, malah bawa-bawa beton!"
"Dikit doang, Nay. Habisnya lo susah ditembus," balas Radi ikut tertawa.
"Tapi serius, Nay. Gue cuma pengen tahu fokus lo ke depan gimana. Apa lo bakal terus lari sendirian kayak gini, atau lo mulai kepikiran buat jalan bareng seseorang?"
Naya diam sebentar. Dia meletakkan sendok kecilnya ke piringan cangkir dengan bunyi denting yang halus. Dia menatap lurus ke dalam mata hitam legam Radi—mencari sisa-sisa cowok pemalu yang dulu pernah dia tolak di koridor kampus. Tapi dia tidak menemukannya. Yang ada di depannya sekarang adalah pria yang sudah "selesai" dengan dirinya sendiri.
Naya tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan.
"Kenapa? Lo masih suka sama gue?" tanya Naya tiba-tiba, suaranya pelan tapi sangat telak.
Radi tidak terkesiap. Dia tidak membuang muka atau pura-pura batuk karena kaget. Sebaliknya, dia justru membalas tatapan Naya dengan intensitas yang sama. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, terlihat sangat rileks.
"Nanya atau lagi ngetes gue, Nay?" Radi balik bertanya sambil terkekeh pelan.
"Nanya beneran. Karena jujur, gue nggak nyangka lo bakal seberani ini sekarang," balas Naya.
Radi mengangguk kecil. Dia mengambil napas dalam sebelum menjawab, wajahnya berubah jadi lebih tenang dan tulus.
"Jujur ya? Rasa suka itu nggak pernah bener-bener hilang, Nay. Cuma bentuknya aja yang beda. Dulu mungkin gue suka lo karena lo cantik dan pinter di kelas. Tapi sekarang... gue suka karena gue kenal siapa lo. Gue suka cara lo mikir, gue suka dedikasi lo, bahkan gue suka cara lo marah-marah kalau ada pekerjaan yang nggak beres."
Radi menjeda ucapannya sebentar, matanya menatap Naya tanpa ada keraguan.
"Jadi jawabannya, iya. Gue masih suka sama lo. Dan kali ini gue nggak nanya buat dapet jawaban 'ya' atau 'nggak' sekarang juga. Gue cuma mau lo tahu kalau di dunia lo yang sibuk ini, ada satu orang yang pengen jadi tempat lo pulang, bukan cuma tempat lo bahas kerjaan."
Mendengar itu, pertahanan Naya sedikit goyah. Dia yang biasanya selalu punya jawaban tajam, kali ini hanya bisa terdiam. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan dari tumpukan jurnal atau target proyek.
Naya membuang muka ke arah lampu kota, berusaha menyembunyikan senyum yang hampir lolos.
"Gila ya... Bandung dingin banget, tapi omongan lo barusan bikin gerah juga."
Radi tertawa lepas melihat Naya yang mulai salah tingkah.
"Ternyata bikin seorang Naya speechless itu lebih susah daripada nego sama klien ya?"
Naya ikut tertawa, kali ini suasana jadi jauh lebih santai. Ada sebuah ketegangan yang pecah malam itu, menyisakan kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih manis di antara mereka.
Hari libur setelah malam yang "berat" itu terasa sangat tenang. Naya memilih untuk bed rest seharian di mess. Dia benar-benar butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi semalam. Sambil bergulung di balik selimut, pikirannya terus memutar ulang kalimat Radi: "Gue pengen jadi tempat lo pulang."
Naya hanya keluar kamar saat perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dengan kaos longgar, celana kulot, dan rambut yang hanya dicepol asal, dia berjalan ke kantin mess mencari makanan.
Sementara itu, di sudut lain area proyek yang lebih sepi, Radi sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang ponselnya. Dia baru saja menutup sesi ceritanya kepada satu orang yang paling tidak bisa jaga rahasia di dunia ini: Arfan.
"BWAHAHAHAHA! DEMI APA LO NGOMONG GITU, DI?!"
Radi refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara tawa Arfan di seberang sana benar-benar melengking, sanggup merusak gendang telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Pelanin suara lo, Fan! Gue lagi di mess, ntar orang dengar," bisik Radi kesal, meski wajahnya sendiri memerah menahan malu.
"Aduh... aduh, perut gue sakit! Jadi Radi si kalem sekarang sudah jadi Radi si penakluk singa? 'Tempat lo pulang'? Gila, puitis banget lo! Belajar di mana? Buku diktat kalkulus?" Arfan masih tertawa terbahak-bahak di Jakarta.
"Ya gue cuma jujur aja. Daripada gue pendam terus kayak zaman kuliah," sahut Radi membela diri.
"Tapi reaksinya Naya gimana? Dia nggak langsung lempar lo pake helm proyek, kan? Atau dia langsung minta CCO buat hubungan kalian?"
Radi tersenyum tipis mengingat wajah Naya yang speechless semalam.
"Dia... dia diem sih. Tapi dia nggak nolak. Itu progres yang bagus menurut gue."
"Bagus matamu! Itu progres luar biasa, Di! Naya itu nggak pernah diem kalau nggak setuju. Kalau dia diem, artinya fondasi pertahanannya udah retak seribu," Arfan mulai sok tahu.
"Dah lah, besok gue balik ke Bandung. Gue bakal bawa kado buat lo berdua. Dan siap-siap ya, gue bakal cengin kalian sampai proyek ini kelar!"
"Awas ya lo, jangan macem-macem depan Naya!" ancam Radi.
"Tenang, tenang. Gue bakal jadi saksi sejarah yang baik. Tapi serius, Di... gue seneng dengernya. Akhirnya ada yang berani 'jinakin' mandor galak kita itu."
Radi menutup telepon sambil geleng-geleng kepala. Di satu sisi dia lega sudah cerita ke Arfan, tapi di sisi lain dia tahu, besok hari Senin akan menjadi hari yang sangat berisik karena kehadiran Arfan yang pasti tidak akan berhenti menggoda mereka.
Malam itu, Naya lagi sibuk di depan laptop di dalam kamar mess-nya. Tiba-tiba ponselnya menyala. Sebuah notifikasi Instagram masuk:
Aris Saputra baru saja mengikuti Anda.
Naya terdiam. Nama itu... Aris. Teman sebangku dari SMP sampai SMA. Cowok yang dulu selalu ada di setiap fase remajanya. Naya merasa ada getaran aneh di hatinya, sesuatu yang nostalgic dan hangat, tapi juga bikin dia sedikit gugup.
Tak lama, sebuah pesan masuk: "Nay? Masih inget gue nggak? Hehe."
Naya tersenyum tipis. Jarinya ragu sejenak sebelum membalas: "Mana mungkin lupa sama orang yang hobi nyontek tugas matematika gue. Ada apa, Ris?"
Ternyata Aris mau ke Bandung besok siang buat ambil sertifikasi keahlian. Dia bilang dia buta arah soal Bandung dan minta tolong Naya buat menjemput sekaligus menemaninya cari makan. Naya, yang merasa masih punya utang pertemanan lama, langsung mengiyakan.
Esok Harinya
Mobil Naya masih di bengkel, dan Arfan masih di Jakarta pusing ngurus galian C. Naya pun terpaksa minta tolong pada Radi.
"Di, boleh bareng ke arah kota? Mau jemput temen lama di stasiun," tanya Naya saat Radi lagi memanaskan mobil di parkiran.
Radi menatap Naya yang hari ini kelihatan lebih "segar"—bukan karena dandan berlebihan, tapi ada aura senang yang terpancar dari wajahnya. "Temen sekolah?"
"Iya, Aris. Temen SMP sama SMA gue. Baru mau ketemu lagi setelah bertahun-tahun," jawab Naya jujur. Radi mengangguk tenang, meski hatinya sedikit mencelos. "Ayo, naik. Sekalian gue ada urusan ke kantor pusat."
Pertemuan di Stasiun & Rumah Makan
Begitu Aris keluar dari stasiun, Naya sempat terpaku sebentar. Aris sudah berubah banyak; lebih tinggi, lebih tegap, dan pembawaannya tenang. Tapi senyumnya masih senyum Aris yang dulu.
"Nay, makin tinggi aja lo," canda Aris sambil menjabat tangan Naya kaku. Ada rasa canggung yang manis karena sudah lama tidak bertemu.
"Gue Dari dulu udah tinggi yee," balas Naya sambil tertawa tipis.
"Oh iya, kenalin, ini Radi. Konsultan di proyek gue."
"Radi," sapa Radi singkat, menjabat tangan Aris dengan aura profesional yang sangat kental. Mereka bertiga akhirnya makan malam di sebuah rumah makan Sunda di daerah Jalan Riau. Obrolannya nggak se-akrab
teman kuliah, tapi lebih ke arah mengenang masa lalu. Aris cerita soal guru-guru mereka dulu, sementara Naya sesekali menanggapi dengan antusias.
"Gue inget banget dulu pas SMA lo nangis gara-gara nilai fisika lo cuma dapet delapan," Aris terkekeh sambil menyeruput teh hangatnya.
Naya tertawa kecil, matanya sempat melirik Radi yang duduk di hadapannya dengan ekspresi datar namun tetap menyimak.
"Jangan dibahas dong, memalukan itu."
Radi lebih banyak diam. Dia bisa merasakan ada kedekatan "sejarah" yang kuat antara Naya dan Aris. Meskipun Aris bersikap sangat sopan dan tidak berlebihan, Radi tahu bahwa cowok ini punya tempat di masa lalu Naya yang tidak dia miliki.
Malam itu Bandung terasa sangat dingin. Naya duduk di antara masa lalu yang mendadak muncul kembali lewat Aris, dan masa kini yang sudah terang-terangan menyatakan perasaan lewat Radi. Semuanya terasa sangat nyata, dewasa, dan sedikit membuat Naya bingung dengan perasaannya sendiri.
Akhirnya, Radi dan Naya berhasil mencarikan Aris hotel yang nyaman dan dekat dengan tempat pengambilan sertifikasinya. Aris akan menetap di sana selama seminggu penuh. Selama itu pula, rutinitas Naya sedikit berubah. Setiap malam setelah lelah bekerja di proyek, Naya selalu menyempatkan diri menemani Aris—sekadar makan malam atau jalan-jalan santai keliling Bandung untuk melepas penat.
Namun, suasana malam-malam itu seringkali jadi terasa campur aduk. Kadang, Radi dan Arfan (yang akhirnya balik dari Jakarta dengan wajah kuyu habis urus galian C) ikut bergabung. Jadilah mereka berempat makan bareng di pinggir jalan, menciptakan dinamika unik antara teman masa kecil Naya dan rekan kerja masa kininya.
Tapi ada juga malam-malam di mana Radi memilih untuk tidak ikut. Dia lebih memilih diam di mess bersama Arfan. Di saat itulah, barak proyek mereka jadi saksi bisu curhatan Radi.
"Gila ya, Fan. Lihat mereka ngobrolin masa sekolah... gue berasa nggak punya celah buat masuk," keluh Radi sambil menatap langit-langit kamar mess yang remang.
Arfan, yang lagi selonjoran sambil memijat kakinya, cuma bisa tertawa renyah.
"Aelah, Radi. Masa lo kalah sama nostalgia putih abu-abu? Aris itu masa lalu, lo itu masa depan yang lagi satu proyek sama dia. Mental lo jangan kayak beton yang belum kering dong, lembek amat!"
"Bukan gitu, Fan. Gue cuma ngerasa Naya beda aja kalau lagi sama Aris. Lebih... santai. Lebih banyak ketawa."
"Ya jelaslah, namanya juga temen dari kecil. Tapi tenang aja, seminggu ini cuma 'masa uji coba' buat kesabaran lo. Kalau lo cuma diem di mess sambil meratapi nasib, ya makin ketinggalan lo!" ledek Arfan sambil melempar bantal ke arah Radi.
Radi cuma bisa mengembuskan napas panjang. Dia tahu Arfan benar, tapi tetap saja, melihat Naya dan Aris pergi berduaan setiap malam menimbulkan riak kecil yang tak nyaman di hatinya. Sementara itu di pusat kota, Naya dan Aris sedang asyik bernostalgia, tanpa tahu kalau di mess ada seorang pria yang sedang belajar arti kesabaran yang sesungguhnya.
Malam itu menjadi malam terakhir Aris di Bandung. Aris harus mengejar kereta malam ke Jakarta, karena besok paginya dia sudah ada penerbangan ke Lombok. Naya meminta Radi untuk menemani mereka, sekaligus membantu Aris mencari oleh-oleh untuk teman-teman kantornya.
Saat di toko oleh-oleh, suasana mulai terasa "panas" bagi Radi. Naya dan Aris jalan berdampingan di lorong toko, sibuk memilihkan makanan sambil sesekali bernostalgia. Melihat mereka begitu dekat, Radi merasa ada yang mengganjal di dadanya—rasa nyeri karena cemburu.
Nggak mau tinggal diam, Radi mulai melancarkan aksinya.
Setiap kali Naya dan Aris mulai berjalan berdekatan, Radi dengan sengaja—tapi gayanya dibuat sangat alami seolah sedang melihat-lihat produk—berjalan masuk ke tengah-tengah mereka. Jadi,
posisinya sekarang: Aris - Radi - Naya.
Kalau Aris mau bicara ke Naya, dia terhalang badan Radi. Kalau Naya mau mengambilkan sesuatu buat Aris, dia harus melewati Radi dulu. Radi melakukan itu dengan wajah yang sangat datar, seolah dia cuma kebetulan saja lewat atau sedang asyik membaca label kadaluarsa di kotak brownies.
Sampai di stasiun pun begitu. Setiap Aris mencoba bergeser mendekat ke Naya untuk mengucapkan perpisahan, Radi langsung ikut bergeser secara halus, memblokir celah tersebut supaya mereka tetap berjarak.
Naya bukan orang bodoh. Dia sadar betul sejak di toko oleh-oleh tadi kalau Radi sedang melakukan "manuver" untuk memisahkan mereka. Naya hanya bisa tersenyum simpul dalam hati. Dia merasa lucu melihat Radi—seorang konsultan yang biasanya sangat logis dan berwibawa di proyek—bisa bersikap se-anak kecil itu demi menutupi rasa cemburunya.
"Hati-hati di jalan ya, Ris. Sukses buat sertifikasinya!" ucap Naya saat kereta mulai tiba.
"Makasih ya, Nay. Radi, makasih juga ya sudah bantu antar jemput," kata Aris sambil menjabat tangan Radi dengan ramah.
"Sama-sama. Kabari kalau sudah sampai," jawab Radi singkat dan tegas, sambil tetap berdiri kokoh di samping Naya layaknya pagar beton.
Setelah kereta Aris hilang dari pandangan, suasana jadi sunyi. Naya menoleh ke Radi yang masih memasang wajah formal.
"Di, capek nggak jadi pembatas jalan dari tadi?" tanya Naya sambil menahan tawa.
Radi pura-pura tidak mengerti, meski telinganya mulai memerah. "Maksudnya? Gue cuma jalan biasa aja kok."
Naya tertawa kecil sambil berjalan menuju parkiran. "Iya, jalan biasa yang kalau ada celah sedikit antara gue sama Aris, langsung lo tutup. Posesifnya telat, tapi lucu juga."
Radi cuma bisa diam mematung sebentar sebelum akhirnya menyusul Naya dengan perasaan yang campur aduk antara malu tapi juga lega.
Proyek besar di Bandung akhirnya mencapai tahap serah terima. Dengan berakhirnya pekerjaan itu, berakhir pula masa-masa mereka tinggal dalam satu mess yang sama. Naya dan Arfan kembali ke Jakarta untuk fokus di kantor pusat, sementara Radi mendapatkan tugas baru sebagai kepala tim konsultan untuk proyek strategis di Yogyakarta.
Jarak ratusan kilometer antara Jakarta dan Yogyakarta ternyata tidak menyurutkan langkah Radi.
Pendekatannya justru semakin gencar. Meski sibuk dengan urusan proyek di Jawa Tengah, Radi tak pernah absen menghubungi Naya. Jika Naya terlalu sibuk untuk membalas pesan, Radi akan "bergerilya" lewat Arfan untuk menanyakan kabar atau sekadar memastikan Naya tidak telat makan karena lembur.
Bahkan, hampir setiap akhir pekan saat libur, Radi rela menempuh perjalanan jauh ke Jakarta hanya untuk sekadar mengajak Naya dan Arfan makan siang bersama. Naya yang tadinya skeptis, pelan tapi pasti mulai merasakan getaran yang berbeda. Keteguhan dan kedewasaan Radi dalam menunjukkan keseriusannya perlahan-lahan meruntuhkan tembok pertahanan Naya.
Momen di Hari Lamaran Arfan
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Arfan akhirnya memantapkan langkah untuk melamar kekasihnya. Di hari spesial itu, Radi menawarkan diri untuk menjemput Naya di flat-nya agar mereka bisa berangkat bersama ke acara tersebut.
Naya keluar dari gedung flat dengan gaun satin berwarna soft peach yang membuatnya terlihat sangat anggun, jauh berbeda dari penampilan lapangan yang biasa dilihat Radi. Radi pun tak kalah rapi dengan kemeja batik tulis yang pas di badannya.
Di tengah kemacetan Jakarta menuju lokasi acara, suasana di dalam mobil terasa hangat namun sedikit menegangkan. Radi mematikan suara radio, lalu melirik Naya yang sedang merapikan riasannya di kaca.
"Nay," panggil Radi lembut.
Naya menoleh,
"Ya?"
Radi mengambil napas dalam, jemarinya mengetuk kemudi pelan sebelum akhirnya ia memberanikan diri.
"Sudah cukup lama ya kita bolak-balik Jakarta-Yogya cuma buat ngopi? Gue rasa, ini waktu yang tepat buat gue nanya lagi."
Naya terdiam, menatap Radi dengan perhatian penuh.
"Gimana dengan hati lo, Nay? Apakah sekarang sudah ada ruang buat gue di sana? Atau... lo masih butuh waktu lebih lama lagi buat meyakinkan diri kalau gue orang yang tepat?" tanya Radi dengan nada yang sangat tulus, tanpa ada kesan memaksa.
Naya tidak langsung menjawab. Dia menatap jalanan di depan, lalu tersenyum manis—sebuah senyum yang jarang ia berikan di tempat kerja.
"Lo tahu nggak, Di? Arfan pernah bilang kalau gue itu kayak struktur bangunan yang terlalu kaku. Tapi lo... lo itu kayak beban yang terus-menerus masuk secara perlahan sampai strukturnya harus menyesuaikan diri," Naya terkekeh kecil, lalu menatap Radi dalam-dalam.
"Gue rasa... waktunya sudah cukup, Radi. Ruang itu sudah ada, bahkan sebelum gue sendiri menyadarinya."
Radi terpaku sejenak, matanya berbinar mendengar jawaban itu. "Jadi, ini artinya 'iya'?"
Naya mengangguk pelan.
"Iya. Tapi jangan harap gue nggak bakal galak lagi kalau nanti kita ketemu di proyek berikutnya."
Radi tertawa lepas, rasa lega terpancar jelas dari wajahnya.
"Nggak apa-apa. Galaknya lo itu yang bikin gue nggak bisa pindah ke lain hati."
Sore itu, di tengah hiruk pikuk Jakarta, sebuah hubungan baru resmi terbangun—lebih kuat dan lebih kokoh daripada proyek mana pun yang pernah mereka kerjakan bersama.
Kabar bahagia itu akhirnya tiba. Setelah persiapan berbulan-bulan, Arfan akan segera menikah di Bali. Sebuah resor di tebing Uluwatu sudah disiapkan untuk menyambut momen sakral itu. Radi, Ali, dan Azka sudah berada di sana sejak Selasa, menikmati angin laut sambil menunggu kehadiran anggota terakhir "Trio Maut + 1" mereka: Naya.
Namun, hingga Rabu malam, kursi Naya di meja makan malam mereka tetap kosong.
KAMIS Pagi
Area Konstruksi Sektor C, Jakarta
Naya berdiri di depan kolom struktur utama lantai dasar. Sepatunya kotor oleh lumpur sisa hujan semalam. Di tangannya bukan lagi senter, melainkan sebuah palu beton dan lembar as-built drawing. Dia membatalkan penerbangannya ke Bali karena ada firasat buruk setelah melihat laporan hasil uji tekan beton yang baru masuk ke emailnya subuh tadi.
"Ada yang nggak masuk akal. Hasil lab menunjukkan kuat tekan beton turun 15% dari spesifikasi di zona ini. Kalau mereka tetap cor pelat lantai atas tanpa memperkuat kolom ini, struktur ini bakal kritis." gumam Naya
Naya menginstruksikan mandor untuk melakukan chipping (pengupasan) pada sebagian selimut beton untuk melihat tulangan di dalamnya. Saat beton terkelupas, jantung Naya seakan berhenti.
"Besi sengkangnya... jaraknya terlalu jauh. Harusnya tiap 100mm, tapi ini dipasang tiap 200mm. Mereka mau menghemat besi di bagian paling krusial? Brengsek."
Naya segera merogoh ponselnya di kantong rompi proyek untuk menelepon Arfan atau Radi. Dia ingin melaporkan temuan fatal ini. Namun, saat dia baru saja menempelkan ponsel ke telinga, sebuah suara "tembakan" keras terdengar dari arah atas—bunyi beton yang pecah karena gagal menahan beban tekuk.
Naya mendongak. Tidak ada teriakan pahlawan. Yang ada hanya insting bertahan hidup yang terlambat. Retakan menjalar secepat kilat pada kolom di depannya.
"KELUAR! SEMUA KELUAR!" teriak Naya pendek.
Dia mencoba berlari menuju pintu zona aman, namun getaran hebat mengguncang tanah. Langit-langit beton di atasnya, yang baru saja menerima beban material tambahan, kehilangan tumpuan. Dalam dua detik, berton-ton beton amblas ke arahnya. Naya jatuh terjerembap, dan sebelum dia sempat bangun, gelap total menyapu kesadarannya.
Kamis Siang
Uluwatu, Bali
Suasana di kamar rias sangat sunyi. Arfan duduk di depan cermin, sudah mengenakan setelan pengantinnya yang putih bersih. Radi berdiri di balkon, menatap laut lepas dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Ponsel Naya masih tidak aktif.
Tiba-tiba, Ayah Arfan masuk. Langkah kakinya berat, dan wajahnya menunjukkan duka yang sangat dalam. Beliau memegang ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan dari Jakarta.
"Arfan... Radi..." Suara beliau pecah. Beliau tidak sanggup bicara banyak, hanya menyerahkan ponsel itu kepada Arfan.
Ponsel itu tidak menyiarkan berita TV, melainkan suara kacau dari lokasi proyek. Suara tangis pekerja dan deru alat berat yang mencoba mengangkat puing beton.
"Pak... ini dari lapangan... Ibu Naya baru saja ditemukan," suara di seberang sana bergetar hebat. "Tadi pagi saat tim evakuasi masuk ke basement... Ibu Naya sudah tidak ada. Beliau terjepit di bawah runtuhan kolom utama. Beliau... meninggal dunia di tempat, Pak."
Radi, yang berdiri tepat di samping Arfan, mendengar setiap kata itu. Tangannya yang tadinya meraba kotak cincin di sakunya mendadak kaku. Kotak itu seolah berubah menjadi bongkahan es yang membekukan jantungnya.
Arfan jatuh terduduk di depan meja rias, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Ali dan Azka, yang baru masuk, seketika mematung melihat pemandangan itu. Kabar itu bukan lagi sekadar firasat, tapi kenyataan pahit yang menghantam mereka tepat di hari paling bahagia Arfan.
Sore Hari
Di Pinggir Tebing
Acara akad nikah Arfan tetap berjalan, meski hanya dihadiri keluarga inti dalam suasana yang sangat kelabu. Tidak ada tawa, hanya air mata yang terus mengalir selama prosesi berlangsung.
Setelah semua usai, Radi berjalan ke tepi tebing. Dia mengeluarkan cincin berlian yang sudah dia siapkan sejak di Yogyakarta. Di bawah langit Bali yang mulai menggelap, dia memutar-mutar cincin itu di tangannya.
"Naya... lo beneran buktiin kalau lo nggak pernah kompromi sama kesalahan, ya?" bisik Radi parau.
Dia tidak melamar Naya di bawah bintang-bintang seperti rencananya. Dia justru harus menerima kenyataan bahwa wanita yang dia cintai pergi sebagai seorang martir bagi integritas pekerjaannya. Naya meninggal karena dia terlalu peduli, terlalu jujur, dan terlalu berani untuk menantang maut demi sebuah standar keamanan.
Radi menggenggam cincin itu erat-erat, menatap samudera luas yang kini terasa sama kosongnya dengan hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar